Kaji Minoritas, Alumnus Fakultas Ushuluddin Jadi Profesor LIPI
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 17:26 WIB
loading...
A
A
A
Di berbagai daerah dan media, sikap kebencian dilakukan dengan persekusi, kekerasan, bahkan penutupan rumah ibadah. Ungkapan kebencian juga diungkapkan dalam postingan media sosial. “Masih ada yang melihat kebinekaan sebagai ancaman. Persoalan diskriminasi seperti penyakit di Indonesia, justru saat di dunia marak kecenderungan tak berjarak,” tambahnya.
Profil kelompok minoritas sendiri, sambungnya, bisa terbagi ke dalam dua kelompok yang biasanya menjadi korban sasaran intoleransi. Keduanya, minoritas etnik dan minoritas keyakinan keagamaan. Berbagai istilah seperti asing, pragmatis, oportunis disematkan kepada minoritas etnik, sedang kafir, tersesat, dan sejenisnya disematkan kepada minoritas keyakinan keagamaan.
Dalam berbagai riset sejarah dan antropologi yang dilakukannya, Najib menyebutkan, karakter mendasar bangsa Indonesia adalah toleran terhadap keragaman. Karakter ini dibangun dari jalinan tradisi lokal dan pemahaman keagamaan yang utuh.
Atas dasar itu, sambungnya, tugas seluruh komponen masyarakat untuk kembali memperkuat karakter tersebut di tengah-tengah berkembangnya sikap intoleran. “Kita berharap intoleransi yang dilihat sekarang ini hanya gejala sesaat. Pekerjaan kita sekarang bagaimana toleransi bisa kembali menguat,” tandasnya.
Profil kelompok minoritas sendiri, sambungnya, bisa terbagi ke dalam dua kelompok yang biasanya menjadi korban sasaran intoleransi. Keduanya, minoritas etnik dan minoritas keyakinan keagamaan. Berbagai istilah seperti asing, pragmatis, oportunis disematkan kepada minoritas etnik, sedang kafir, tersesat, dan sejenisnya disematkan kepada minoritas keyakinan keagamaan.
Dalam berbagai riset sejarah dan antropologi yang dilakukannya, Najib menyebutkan, karakter mendasar bangsa Indonesia adalah toleran terhadap keragaman. Karakter ini dibangun dari jalinan tradisi lokal dan pemahaman keagamaan yang utuh.
Atas dasar itu, sambungnya, tugas seluruh komponen masyarakat untuk kembali memperkuat karakter tersebut di tengah-tengah berkembangnya sikap intoleran. “Kita berharap intoleransi yang dilihat sekarang ini hanya gejala sesaat. Pekerjaan kita sekarang bagaimana toleransi bisa kembali menguat,” tandasnya.
(mpw)
Lihat Juga :