Penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan Tawarkan Konsep Pendidikan di Indonesia
Jum'at, 15 November 2024 - 18:26 WIB
loading...
A
A
A
Pendidikan juga harus memenuhi kebutuhan personal dan sosial. Yakni bagaimana manusia bisa memahami dunia di sekitarnya dan dunia di dalam dirinya sehingga dia akan terpenuhi baik ekonominya, intelektual, emosional dan sosialnya, serta dapat berperan aktif sebagai warga negara.
“Pengetahuan yang diperoleh siswa sebaiknya bersifat konstruktivis, yaitu dihasilkan dari pengalaman dan interaksinya dengan manusia lain dan sekitarnya, bukan karena ceramah atau hafalan. Suasana belajar seperti inilah yang akan memerdekakan siswa untuk menghasilkan pikiran-pikiran baru,” terangnya. Baca juga: Tidak Ada Nama Merdeka Belajar, Ini 6 Program Prioritas Mendikdasmen Abdul Mu'ti
Sedangkan di acara The 10th Seruni: Seruni Talks on Stage, bersama Muhadjir Effendy, Rizal mengupas esensi untuk menghadapi Ketimpangan Akses dan Kurikulum yang Fluktuatif. Menurutnya, ketimpangan akses adalah akibat dari paradigma pendidikan yang berorientasi pada human capital yang hanya menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja. Akibatnya, manusia dianggap sebagai objek pendidikan. Bukan subjek atau pelaku utama.
Akibatnya siswa-siswa di segala tingkatan pendidikan, termasuk mahasiswa sering tidak menikmati proses belajarnya. Pendidikan inilah yang menjauhkan mereka dari talenta, bakat atau passion-nya. ”Dan jika hal ini terus berlanjut hingga di dunia kerja, mereka tidak akan produktif dan mencintai pekerjaannya,” tuturnya.
“Pengetahuan yang diperoleh siswa sebaiknya bersifat konstruktivis, yaitu dihasilkan dari pengalaman dan interaksinya dengan manusia lain dan sekitarnya, bukan karena ceramah atau hafalan. Suasana belajar seperti inilah yang akan memerdekakan siswa untuk menghasilkan pikiran-pikiran baru,” terangnya. Baca juga: Tidak Ada Nama Merdeka Belajar, Ini 6 Program Prioritas Mendikdasmen Abdul Mu'ti
Sedangkan di acara The 10th Seruni: Seruni Talks on Stage, bersama Muhadjir Effendy, Rizal mengupas esensi untuk menghadapi Ketimpangan Akses dan Kurikulum yang Fluktuatif. Menurutnya, ketimpangan akses adalah akibat dari paradigma pendidikan yang berorientasi pada human capital yang hanya menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja. Akibatnya, manusia dianggap sebagai objek pendidikan. Bukan subjek atau pelaku utama.
Akibatnya siswa-siswa di segala tingkatan pendidikan, termasuk mahasiswa sering tidak menikmati proses belajarnya. Pendidikan inilah yang menjauhkan mereka dari talenta, bakat atau passion-nya. ”Dan jika hal ini terus berlanjut hingga di dunia kerja, mereka tidak akan produktif dan mencintai pekerjaannya,” tuturnya.
(poe)
Lihat Juga :