Kisah 3 Lulusan Kedokteran UGM dengan IPK 4.00: Tangis Mengerjakan Skripsi Sudah Biasa
Jum'at, 06 Juni 2025 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Untuk mengatasi itu, Ilmi menerapkan manajemen waktu yang ketat dengan mencatat agenda harian secara rinci. Ia juga mengadopsi metode learning objectives untuk membantu belajar secara sistematis.
“Selama 3,5 tahun ini, saya banyak merasakan momen naik dan turun. Singkatnya, sudah seperti roller coaster,” pungkasnya.
“Saya sangat bersyukur sekali bisa lulus dengan IPK sempurna,” katanya, Jumat (6/6).
Sejak remaja, Claire sudah bercita-cita menjadi dokter. Ia terinspirasi oleh Rumah Sakit Apung yang didirikan dr. Lie Dharmawan dari Yayasan Dokter Peduli (DoctorSHARE), yang memberikan layanan kesehatan ke wilayah terpencil melalui kapal.
“Saya lalu memilih prodi kedokteran UGM karena dikenal sebagai prodi yang tidak hanya mengajarkan gold standard, tetapi juga bagaimana seorang dokter dapat beradaptasi dengan fasilitas kesehatan (faskes) yang tersedia, baik itu di kota besar ataupun kecil,” ungkap Claire.
Menurutnya, para dosen dan profesor di FK-KMK UGM tidak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu kedokteran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai empati dan ketulusan dalam melayani pasien.
“Selama 3,5 tahun ini, saya banyak merasakan momen naik dan turun. Singkatnya, sudah seperti roller coaster,” pungkasnya.
Claire Emmanuel: Inspirasi dari Rumah Sakit Apung
Claire Emmanuel, mahasiswa asal Jakarta, menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian IPK sempurna yang ia raih, berkat dukungan keluarga, teman, dosen, dan tenaga kependidikan selama masa studinya.“Saya sangat bersyukur sekali bisa lulus dengan IPK sempurna,” katanya, Jumat (6/6).
Sejak remaja, Claire sudah bercita-cita menjadi dokter. Ia terinspirasi oleh Rumah Sakit Apung yang didirikan dr. Lie Dharmawan dari Yayasan Dokter Peduli (DoctorSHARE), yang memberikan layanan kesehatan ke wilayah terpencil melalui kapal.
“Saya lalu memilih prodi kedokteran UGM karena dikenal sebagai prodi yang tidak hanya mengajarkan gold standard, tetapi juga bagaimana seorang dokter dapat beradaptasi dengan fasilitas kesehatan (faskes) yang tersedia, baik itu di kota besar ataupun kecil,” ungkap Claire.
Menurutnya, para dosen dan profesor di FK-KMK UGM tidak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu kedokteran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai empati dan ketulusan dalam melayani pasien.
(nnz)
Lihat Juga :