9 Buku Bertema Kearifan Lokal Diluncurkan Perpusnas, Semua Bisa Diakses Gratis
Selasa, 17 Juni 2025 - 11:19 WIB
loading...
A
A
A
"Melalui pendekatan terintegrasi ini, kami berharap dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi penulis baru untuk berkembang, dan menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan," jelasnya.
ILPN merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Sub Kelompok Penerbitan Perpusnas melalui Perpusnas Press. Pada tahun ini, ILPN mengusung tema ‘Menulis Demi Generasi Literat’. ILPN 2025 memiliki fokus terhadap ulasan dan dokumentasi upaya peningkatan literasi di empat lokus yaitu Kota Medan, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.
"Keempat lokus ini menjadi tempat pertama untuk pelaksanaan ILPN dengan tema baru ini. Saya berharap muncul penulis-penulis baru yang memberikan inspirasi di tengah masyarakat," terangnya.
Sementara itu, dalam seminar, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas, Edi Wiyono, menyampaikan konsep Trisula Pustakawan sebagai kekuatan utama profesi pustakawan masa kini, yakni penjaga pengetahuan, pencipta pengetahuan, dan penyebar pengetahuan.
"Saat ini pustakawan tidak cukup hanya mengelola koleksi. Kita harus hadir sebagai penyaring dan penyampai pengetahuan yang valid," ungkap inisiator ILPN ini.
Dia menekankan, untuk menjadi pustakawan yang transformatif, diperlukan kombinasi hard skill, soft skill, dan etika profesi. "Kita harus mampu menulis, berbicara, dan membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan," tambahnya.
Hal senada diungkapkan Dosen Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Diponegoro, Lydia Christiani. Mengutip Blasius Sudarsono, dia menyebut seorang pustakawan harus memiliki kemampuan (hard skill) dan kemauan (soft skill) yang seimbang. Ketimpangan di antara keduanya sering kali menyebabkan hilangnya jiwa dalam praktik kepustakawanan yang diibaratkan seperti pustakawan zombi.
Lydia mengajak untuk merefleksikan makna dari istilah kepustakawanan yang selama ini cenderung dimaknai sebagai aktivitas teknis pustakawan. Padahal, imbuhnya, akhiran "-ship" dalam bahasa Inggris, seperti pada librarianship, mengandung dimensi kualitas, status, keterampilan, dan kebersamaan. Selama ini, hal tersebut luput dari perhatian praktisi.
ILPN merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Sub Kelompok Penerbitan Perpusnas melalui Perpusnas Press. Pada tahun ini, ILPN mengusung tema ‘Menulis Demi Generasi Literat’. ILPN 2025 memiliki fokus terhadap ulasan dan dokumentasi upaya peningkatan literasi di empat lokus yaitu Kota Medan, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.
"Keempat lokus ini menjadi tempat pertama untuk pelaksanaan ILPN dengan tema baru ini. Saya berharap muncul penulis-penulis baru yang memberikan inspirasi di tengah masyarakat," terangnya.
Sementara itu, dalam seminar, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas, Edi Wiyono, menyampaikan konsep Trisula Pustakawan sebagai kekuatan utama profesi pustakawan masa kini, yakni penjaga pengetahuan, pencipta pengetahuan, dan penyebar pengetahuan.
"Saat ini pustakawan tidak cukup hanya mengelola koleksi. Kita harus hadir sebagai penyaring dan penyampai pengetahuan yang valid," ungkap inisiator ILPN ini.
Dia menekankan, untuk menjadi pustakawan yang transformatif, diperlukan kombinasi hard skill, soft skill, dan etika profesi. "Kita harus mampu menulis, berbicara, dan membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan," tambahnya.
Hal senada diungkapkan Dosen Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Diponegoro, Lydia Christiani. Mengutip Blasius Sudarsono, dia menyebut seorang pustakawan harus memiliki kemampuan (hard skill) dan kemauan (soft skill) yang seimbang. Ketimpangan di antara keduanya sering kali menyebabkan hilangnya jiwa dalam praktik kepustakawanan yang diibaratkan seperti pustakawan zombi.
Lydia mengajak untuk merefleksikan makna dari istilah kepustakawanan yang selama ini cenderung dimaknai sebagai aktivitas teknis pustakawan. Padahal, imbuhnya, akhiran "-ship" dalam bahasa Inggris, seperti pada librarianship, mengandung dimensi kualitas, status, keterampilan, dan kebersamaan. Selama ini, hal tersebut luput dari perhatian praktisi.
Lihat Juga :