Wujudkan Pendidikan Berkualitas, UT Kukuhkan 10 Guru Besar
Selasa, 05 Agustus 2025 - 18:22 WIB
loading...
Universitas Terbuka (UT) mengukuhkan 10 profesor baru dari berbagai bidang keilmuan. Foto/UT.
A
A
A
JAKARTA - Universitas Terbuka (UT) kembali memperkuat perannya sebagai pelopor pendidikan tinggi jarak jauh di Indonesia dengan mengukuhkan 10 profesor baru dari berbagai bidang keilmuan.
Acara pengukuhan yang berlangsung di hadapan pimpinan universitas, anggota Senat Akademik, mitra, mahasiswa, dan keluarga besar UT ini menjadi penegas misi UT untuk menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rektor UT Mohamad Yunus, menegaskan bahwa keberadaan guru besar adalah kunci dalam memperkuat kualitas akademik UT. “Guru besar memiliki tanggung jawab moral besar untuk menyebarkan semangat kepada seluruh sivitas akademika UT. Misi kita adalah membuka akses pendidikan tinggi untuk masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Selasa (5/8/2025).
Baca juga: Jejak Pendidikan Silfester Matutina yang Akan Dieksekusi dalam Kasus Fitnah JK
Saat ini UT memiliki 35 guru besar, dan dalam lima tahun ke depan, ditargetkan jumlah ini akan bertambah menjadi 85 guru besar sebagai bagian dari roadmap penguatan kapasitas akademik dan riset UT.
Ketua Senat Akademik UT, Prof. Dr. Chanif Nurcholis, menekankan bahwa keberadaan profesor bukan sekadar jabatan, melainkan peran strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang substansial, bermetode ilmiah, dan diakui oleh komunitas nasional maupun internasional.
“Makin banyak profesor, makin besar kontribusi UT dalam menghasilkan ilmu yang benar, relevan, dan mendapatkan rekognisi global,” tegasnya.
Dalam acara ini, lima profesor menyampaikan orasi ilmiah lintas disiplin yang merespons tantangan dunia masa kini:
1. Prof. Dr. Rhini Fatma Sari - Nilai Strategis pada Pendidikan Tinggi dan Jarak Jauh: Sebuah Analisis Biaya. Ia menekankan bahwa pendidikan jarak jauh adalah investasi pembangunan, bukan beban anggaran, dan UT harus terus menunjukkan return on investment (ROI) melalui inovasi dan perluasan akses.
2. Prof. Dr. Etty Puji Lestari – The New Economic Order, Perang Tarif Global dan Arah Baru Ekonomi Indonesia. Dalam orasinya, Prof. Etty menekankan pentingnya lulusan yang adaptif dan strategis dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global di era New Economic Order.
3. Prof. Dr. Lina Warlina – Peran Pemodelan dalam Merancang Alternatif Kebijakan Lingkungan. Ia mendorong penerapan pemodelan sistem dinamis berbasis data dalam kebijakan lingkungan yang berkelanjutan dan partisipatif.
4. Prof. Dr. Agus Santoso – Computerized Adaptive Testing (CAT) untuk Pengukuran yang Lebih Akurat dan Efisien. Prof. Agus memperkenalkan asesmen adaptif berbasis teknologi yang personal, adil, dan efisien dalam konteks pembelajaran jarak jauh.
5. Prof. Dr. Ir. Amalia Sapriati – Pembelajaran Sains dalam Pendidikan Jarak Jauh: Integrasi Humanistik dan Literasi Saintifik. Ia menekankan pentingnya pembelajaran sains yang humanistik, kontekstual, dan literatif, terutama dalam program pendidikan guru.
Dalam kesempatan ini, UT juga meluncurkan buku berjudul “Pendidikan Adaptif-Inklusif, Ekonomi Resilien, dan Lingkungan Lestari”, yang merangkum orasi kelima guru besar tersebut. Buku ini menjadi kontribusi nyata UT dalam memperkuat diskursus akademik lintas sektor yang kontekstual dan berdampak.
Acara pengukuhan yang berlangsung di hadapan pimpinan universitas, anggota Senat Akademik, mitra, mahasiswa, dan keluarga besar UT ini menjadi penegas misi UT untuk menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rektor UT Mohamad Yunus, menegaskan bahwa keberadaan guru besar adalah kunci dalam memperkuat kualitas akademik UT. “Guru besar memiliki tanggung jawab moral besar untuk menyebarkan semangat kepada seluruh sivitas akademika UT. Misi kita adalah membuka akses pendidikan tinggi untuk masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Selasa (5/8/2025).
Baca juga: Jejak Pendidikan Silfester Matutina yang Akan Dieksekusi dalam Kasus Fitnah JK
Saat ini UT memiliki 35 guru besar, dan dalam lima tahun ke depan, ditargetkan jumlah ini akan bertambah menjadi 85 guru besar sebagai bagian dari roadmap penguatan kapasitas akademik dan riset UT.
Ketua Senat Akademik UT, Prof. Dr. Chanif Nurcholis, menekankan bahwa keberadaan profesor bukan sekadar jabatan, melainkan peran strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang substansial, bermetode ilmiah, dan diakui oleh komunitas nasional maupun internasional.
“Makin banyak profesor, makin besar kontribusi UT dalam menghasilkan ilmu yang benar, relevan, dan mendapatkan rekognisi global,” tegasnya.
Dalam acara ini, lima profesor menyampaikan orasi ilmiah lintas disiplin yang merespons tantangan dunia masa kini:
1. Prof. Dr. Rhini Fatma Sari - Nilai Strategis pada Pendidikan Tinggi dan Jarak Jauh: Sebuah Analisis Biaya. Ia menekankan bahwa pendidikan jarak jauh adalah investasi pembangunan, bukan beban anggaran, dan UT harus terus menunjukkan return on investment (ROI) melalui inovasi dan perluasan akses.
2. Prof. Dr. Etty Puji Lestari – The New Economic Order, Perang Tarif Global dan Arah Baru Ekonomi Indonesia. Dalam orasinya, Prof. Etty menekankan pentingnya lulusan yang adaptif dan strategis dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global di era New Economic Order.
3. Prof. Dr. Lina Warlina – Peran Pemodelan dalam Merancang Alternatif Kebijakan Lingkungan. Ia mendorong penerapan pemodelan sistem dinamis berbasis data dalam kebijakan lingkungan yang berkelanjutan dan partisipatif.
4. Prof. Dr. Agus Santoso – Computerized Adaptive Testing (CAT) untuk Pengukuran yang Lebih Akurat dan Efisien. Prof. Agus memperkenalkan asesmen adaptif berbasis teknologi yang personal, adil, dan efisien dalam konteks pembelajaran jarak jauh.
5. Prof. Dr. Ir. Amalia Sapriati – Pembelajaran Sains dalam Pendidikan Jarak Jauh: Integrasi Humanistik dan Literasi Saintifik. Ia menekankan pentingnya pembelajaran sains yang humanistik, kontekstual, dan literatif, terutama dalam program pendidikan guru.
Dalam kesempatan ini, UT juga meluncurkan buku berjudul “Pendidikan Adaptif-Inklusif, Ekonomi Resilien, dan Lingkungan Lestari”, yang merangkum orasi kelima guru besar tersebut. Buku ini menjadi kontribusi nyata UT dalam memperkuat diskursus akademik lintas sektor yang kontekstual dan berdampak.
(nnz)
Lihat Juga :