Kisah Rischa Sebayang, dari Penerima Beasiswa hingga Jadi Data Analyst dan Mentor Muda
Kamis, 14 Agustus 2025 - 06:15 WIB
loading...
Rischa Agitta Sebayang bersama anak-anak di Komunitas Sahabat Anak Grogol. Foto/Tanoto Foundation.
A
A
A
JAKARTA - Rischa Agitta Sebayang, seorang profesional di bidang Marketing Analytic and Research, memulai perjalanannya dari ketertarikan pada data sejak duduk di bangku kuliah. Berbekal pengalaman bekerja di lembaga riset pasar, ia menapaki karier sebagai data analyst di beragam industri, mulai dari keuangan, pertambangan, hingga perusahaan transportasi ternama.
Dalam perannya, Rischa menganalisis data internal dan eksternal perusahaan, mulai dari transaksi, perilaku konsumen, hingga demografi dan geospasial untuk memberikan rekomendasi strategis. Baginya, data ada di mana-mana, tinggal bagaimana memanfaatkannya secara tepat.
Ia melihat profesi data analyst kini semakin diminati generasi muda. Pelatihan, bootcamp, hingga program studi terkait bermunculan. Sebagai mentor, Rischa pernah membimbing hingga 60 peserta dalam satu kelas online. Namun, ia mengingatkan bahwa menjadi data analyst tidak hanya soal menguasai tools, tetapi juga memahami proses bisnis dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menyampaikan data secara jelas dan meyakinkan.
Kecintaannya pada data berawal dari studinya di Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski diterima di kampus impian, ia hampir terhenti kuliah karena keterbatasan ekonomi.
Baca juga: Mahasiswa UPN Yogyakarta Ini Raih Lulusan Terbaik, Cetak 16 Prestasi
Dara asal Sumatra Utara, ini bercerita anak-anak sekolah di kampung halamannya selalu memiliki impian untuk masuk kampus-kampus terbaik di Indonesia. “Sebagai anak rantau, ada semacam mimpi bisa berkuliah di Jawa apalagi di ITB,” katanya, melalui siaran pers, Kamis (14/8/2025).
Namun saat berhasil diterima dan menjalani kuliah di ITB, Rischa tak lantas bisa bernapas lega.Di masa awal kuliah, ia sempat khawatir kuliahnya berhenti di tengah jalan. Alasannya, ia bukan berasal dari keluarga berada.
Baca juga: Cerita Raka, Wisudawan Terbaik UB 2025 dan Lulus Cum Laude Berkat Cinta Lingkungan
“Karena kondisi ekonomi tak sebagus teman-teman, tidak memadai dan tidak memungkinkan, ada kemungkinan saya pulang ke Medan tidak melanjutkan kuliah,” kenangnya.
Sebagai anak rantau, Rischa tidak hanya harus memikirkan biaya kuliah, melainkan juga biaya hidup dan kebutuhan lain untuk menunjang studi, seperti pengerjaan tugas, biaya laboratorium, hingga ongkos fotokopi. Kesimpulannya: ia harus mencari dana tambahan untuk mendukung kuliahnya.
Beasiswa Tanoto Foundation menjadi penyelamat, membiayai kuliah dan biaya hidupnya selama 2008–2012. Lulus, ia langsung diterima di Nielsen, lalu melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia dan membantu biaya kuliah adiknya.
Sejak 2014, Rischa aktif di komunitas Sahabat Anak Grogol, mendampingi pendidikan anak-anak kurang mampu dan anak jalanan. Baginya, membalas kebaikan yang pernah ia terima adalah bentuk rasa syukur. Ia percaya pendidikan dapat mengubah ekonomi dan masa depan seseorang.
Saat ini, Tanoto Foundation membuka pendaftaran Beasiswa Teladan 2026 di 10 perguruan tinggi negeri. Program ini memberikan biaya kuliah penuh, tunjangan hidup, pelatihan kepemimpinan 3,5 tahun, kesempatan magang, hingga dukungan pengembangan soft skill. Penerima beasiswa juga akan tergabung dalam komunitas Tanoto Scholars Association untuk berkontribusi sosial melalui semangat Pay It Forward.
Dalam perannya, Rischa menganalisis data internal dan eksternal perusahaan, mulai dari transaksi, perilaku konsumen, hingga demografi dan geospasial untuk memberikan rekomendasi strategis. Baginya, data ada di mana-mana, tinggal bagaimana memanfaatkannya secara tepat.
Ia melihat profesi data analyst kini semakin diminati generasi muda. Pelatihan, bootcamp, hingga program studi terkait bermunculan. Sebagai mentor, Rischa pernah membimbing hingga 60 peserta dalam satu kelas online. Namun, ia mengingatkan bahwa menjadi data analyst tidak hanya soal menguasai tools, tetapi juga memahami proses bisnis dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menyampaikan data secara jelas dan meyakinkan.
Kecintaannya pada data berawal dari studinya di Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski diterima di kampus impian, ia hampir terhenti kuliah karena keterbatasan ekonomi.
Baca juga: Mahasiswa UPN Yogyakarta Ini Raih Lulusan Terbaik, Cetak 16 Prestasi
Dara asal Sumatra Utara, ini bercerita anak-anak sekolah di kampung halamannya selalu memiliki impian untuk masuk kampus-kampus terbaik di Indonesia. “Sebagai anak rantau, ada semacam mimpi bisa berkuliah di Jawa apalagi di ITB,” katanya, melalui siaran pers, Kamis (14/8/2025).
Namun saat berhasil diterima dan menjalani kuliah di ITB, Rischa tak lantas bisa bernapas lega.Di masa awal kuliah, ia sempat khawatir kuliahnya berhenti di tengah jalan. Alasannya, ia bukan berasal dari keluarga berada.
Baca juga: Cerita Raka, Wisudawan Terbaik UB 2025 dan Lulus Cum Laude Berkat Cinta Lingkungan
“Karena kondisi ekonomi tak sebagus teman-teman, tidak memadai dan tidak memungkinkan, ada kemungkinan saya pulang ke Medan tidak melanjutkan kuliah,” kenangnya.
Sebagai anak rantau, Rischa tidak hanya harus memikirkan biaya kuliah, melainkan juga biaya hidup dan kebutuhan lain untuk menunjang studi, seperti pengerjaan tugas, biaya laboratorium, hingga ongkos fotokopi. Kesimpulannya: ia harus mencari dana tambahan untuk mendukung kuliahnya.
Beasiswa Tanoto Foundation menjadi penyelamat, membiayai kuliah dan biaya hidupnya selama 2008–2012. Lulus, ia langsung diterima di Nielsen, lalu melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia dan membantu biaya kuliah adiknya.
Sejak 2014, Rischa aktif di komunitas Sahabat Anak Grogol, mendampingi pendidikan anak-anak kurang mampu dan anak jalanan. Baginya, membalas kebaikan yang pernah ia terima adalah bentuk rasa syukur. Ia percaya pendidikan dapat mengubah ekonomi dan masa depan seseorang.
Saat ini, Tanoto Foundation membuka pendaftaran Beasiswa Teladan 2026 di 10 perguruan tinggi negeri. Program ini memberikan biaya kuliah penuh, tunjangan hidup, pelatihan kepemimpinan 3,5 tahun, kesempatan magang, hingga dukungan pengembangan soft skill. Penerima beasiswa juga akan tergabung dalam komunitas Tanoto Scholars Association untuk berkontribusi sosial melalui semangat Pay It Forward.
(nnz)
Lihat Juga :