Kongres ELITS ITS Soroti Tantangan AI di Indonesia: Infrastruktur Lemah hingga Etika Penggunaannya
Senin, 29 September 2025 - 14:14 WIB
loading...
A
A
A
Isu lain yang ia tekankan adalah etika. Adhi mengilustrasikan anak SMP atau SD saat ini yang sudah pintar menggunakan AI.
“Ada yang pakai aplikasi generatif untuk bikin gambar gurunya, lalu dipelesetkan. Bagi mereka itu mainan, tapi ada etika yang dilanggar. Harus ada regulasi etik dan tata krama penggunaan AI, termasuk pembatasan usia untuk aplikasi tertentu,” tuturnya panjang lebar.
Meski begitu, ia tetap optimistis. Menurutnya bila bicara inovasi, tidak ada bangsa yang lebih pintar dari yang lain. Inovasi lahir dari kreativitas. Bahkan orang tanpa latar belakang IT pun kini bisa membuat aplikasi berbasis AI.
“Jadi sebenarnya kita bisa menjadi produsen, bukan hanya pengguna. Tapi itu harus difasilitasi, diberi regulasi, dan dikawal agar tumbuh sehat,” jelasnya.
Prof. Adhi juga memberi contoh nyata dari mahasiswa ITS.
“Ada mahasiswa buat aplikasi bernama Glowing. Dari foto wajah di HP, aplikasi memberi saran bedak, vitamin, bahkan olahraga. Itu masuk Playstore hanya dengan upload PDF izin sederhana. Padahal menyentuh aspek kesehatan, ada etik yang dilanggar. Itu menunjukkan lemahnya koridor regulasi. Semua lolos begitu saja,” ungkapnya kritis
Ia menutup dengan ajakan kolaborasi.
“Kalau dengan perusahaan besar seperti Google atau Telkom, mungkin kolaborasi bisa di hardware komputasi. Tapi untuk membangun etika penggunaan AI, pemerintah dan lembaga pendidikan harus terlibat. Mumpung masih awal, etika harus ditanamkan,” ujarnya.
Dari panggung global, hadir Adir Ginting, Head of Enterprise Sales Google Indonesia. Ia mengawali dengan alasan kehadirannya.
“Ada yang pakai aplikasi generatif untuk bikin gambar gurunya, lalu dipelesetkan. Bagi mereka itu mainan, tapi ada etika yang dilanggar. Harus ada regulasi etik dan tata krama penggunaan AI, termasuk pembatasan usia untuk aplikasi tertentu,” tuturnya panjang lebar.
Meski begitu, ia tetap optimistis. Menurutnya bila bicara inovasi, tidak ada bangsa yang lebih pintar dari yang lain. Inovasi lahir dari kreativitas. Bahkan orang tanpa latar belakang IT pun kini bisa membuat aplikasi berbasis AI.
“Jadi sebenarnya kita bisa menjadi produsen, bukan hanya pengguna. Tapi itu harus difasilitasi, diberi regulasi, dan dikawal agar tumbuh sehat,” jelasnya.
Prof. Adhi juga memberi contoh nyata dari mahasiswa ITS.
“Ada mahasiswa buat aplikasi bernama Glowing. Dari foto wajah di HP, aplikasi memberi saran bedak, vitamin, bahkan olahraga. Itu masuk Playstore hanya dengan upload PDF izin sederhana. Padahal menyentuh aspek kesehatan, ada etik yang dilanggar. Itu menunjukkan lemahnya koridor regulasi. Semua lolos begitu saja,” ungkapnya kritis
Ia menutup dengan ajakan kolaborasi.
“Kalau dengan perusahaan besar seperti Google atau Telkom, mungkin kolaborasi bisa di hardware komputasi. Tapi untuk membangun etika penggunaan AI, pemerintah dan lembaga pendidikan harus terlibat. Mumpung masih awal, etika harus ditanamkan,” ujarnya.
Adir Ginting: Google, Inovasi, dan Kritik untuk ITS
Dari panggung global, hadir Adir Ginting, Head of Enterprise Sales Google Indonesia. Ia mengawali dengan alasan kehadirannya.
Lihat Juga :