Siasat Gizi Seimbang dan Jurus Anti-Hoaks: Panduan Penting untuk Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus
Senin, 27 Oktober 2025 - 13:13 WIB
loading...
A
A
A
1) menghindari judul berita yang bombastis;
2) mengenali website sumber informasi dan
3) cek kredibilitas narasumber tokoh penyampai pesan dalam artikel atau konten digital.
Edukasi gizi paling efektif disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan menyentuh emosi orang tua. Metode yang terbukti berhasil adalah Emo-Demo (Emotional Demonstration).
Dalam Emo-Demo di SLB Ulaka Penca, mahasiswa Prodi UAI Gizi, Nisa Nurromah dan Dwi Hayuni mempraktekkan penggunaan pasir sebagai analogi camilan dan bola pingpong sebagai analogi makanan bergizi, lalu dimasukkan ke dalam gelas yang mewakili perut anak.
Kegiatan pun disertai dengan nyanyian dan tarian yang sesuai dengan pesan gizi yang disampaikan. Melalui demonstrasi visual ini, orang tua diajak berpikir tentang pilihan makanan terbaik untuk anak mereka.
Anak-anak ABK juga bisa dilibatkan sebagai peserta aktif. Kegiatan yang interaktif dan menyenangkan, seperti mewarnai gambar dengan tema makanan bergizi, adalah sarana yang baik. Keterlibatan ini membantu terjalinnya ikatan emosi antara fasilitator dengan anak dan orang tua.
Setelah sesi edukasi berakhir, orang tua tetap memerlukan panduan. Sediakan materi pendukung yang dapat diakses kapan saja. Materi ini bisa berupa booklet dan video edukatif yang merangkum pedoman gizi seimbang dan tips literasi digital. Referensi ini memastikan orang tua dapat terus mempraktikkan literasi gizi di rumah, sehingga hak gizi ABK senantiasa terpenuhi.
Mungkin ada orang tua yang awalnya merespons negatif terhadap edukasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dialogis secara bertahap agar mereka memahami urgensi gizi bagi anak. Peran mediator yang baik, seperti sekolah (contohnya SLB Ulaka Penca), sangat penting dalam menjembatani komunikasi antara fasilitator dan orang tua.
Dengan pendekatan yang kolaboratif dan berbasis literasi digital, pemenuhan gizi ABK bukan lagi beban, melainkan sebuah inspirasi bagi sekolah dan komunitas lain.
Penulis: Kevin Prasanna Andrianto dan Ruvira Arindita
2) mengenali website sumber informasi dan
3) cek kredibilitas narasumber tokoh penyampai pesan dalam artikel atau konten digital.
3. Edukasi dengan Hati: Kuasai Metode Emo-Demo
Edukasi gizi paling efektif disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan menyentuh emosi orang tua. Metode yang terbukti berhasil adalah Emo-Demo (Emotional Demonstration).
Dalam Emo-Demo di SLB Ulaka Penca, mahasiswa Prodi UAI Gizi, Nisa Nurromah dan Dwi Hayuni mempraktekkan penggunaan pasir sebagai analogi camilan dan bola pingpong sebagai analogi makanan bergizi, lalu dimasukkan ke dalam gelas yang mewakili perut anak.
Kegiatan pun disertai dengan nyanyian dan tarian yang sesuai dengan pesan gizi yang disampaikan. Melalui demonstrasi visual ini, orang tua diajak berpikir tentang pilihan makanan terbaik untuk anak mereka.
4. Jangan Lupakan Anak: Libatkan dalam Kegiatan Interaktif
Anak-anak ABK juga bisa dilibatkan sebagai peserta aktif. Kegiatan yang interaktif dan menyenangkan, seperti mewarnai gambar dengan tema makanan bergizi, adalah sarana yang baik. Keterlibatan ini membantu terjalinnya ikatan emosi antara fasilitator dengan anak dan orang tua.
5. Sediakan Amunisi Belajar Jangka Panjang
Setelah sesi edukasi berakhir, orang tua tetap memerlukan panduan. Sediakan materi pendukung yang dapat diakses kapan saja. Materi ini bisa berupa booklet dan video edukatif yang merangkum pedoman gizi seimbang dan tips literasi digital. Referensi ini memastikan orang tua dapat terus mempraktikkan literasi gizi di rumah, sehingga hak gizi ABK senantiasa terpenuhi.
Kunci Komunikasi:
Mungkin ada orang tua yang awalnya merespons negatif terhadap edukasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dialogis secara bertahap agar mereka memahami urgensi gizi bagi anak. Peran mediator yang baik, seperti sekolah (contohnya SLB Ulaka Penca), sangat penting dalam menjembatani komunikasi antara fasilitator dan orang tua.
Dengan pendekatan yang kolaboratif dan berbasis literasi digital, pemenuhan gizi ABK bukan lagi beban, melainkan sebuah inspirasi bagi sekolah dan komunitas lain.
Penulis: Kevin Prasanna Andrianto dan Ruvira Arindita
(nnz)
Lihat Juga :