Universitas Jember Tegaskan Kopi Jadi Instrumen Pengentasan Kemiskinan di Tapal Kuda
Rabu, 26 November 2025 - 12:20 WIB
loading...
A
A
A
“Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi jalan keluar dari kemiskinan ketika petani diberi akses pada pengetahuan, teknologi, dan kelembagaan yang berpihak,” ujarnya. “Di Sidomulyo misalnya, pendampingan UNEJ membuat robusta rakyat naik kelas hingga kategori fine-robusta. Begitu pula Kopi Raisa, yang awalnya produk desa biasa, kini punya standar cita rasa dan identitas yang membuatnya bersaing. Ketika inovasi dan nilai tambah itu tinggal di desa, posisi tawar petani berubah, pendapatan meningkat, dan desa-desa perkebunan mulai melihat jalan keluar dari lingkaran kemiskinan.”
Menanggapi komitmen Universitas Jember dalam memastikan petani kopi Jember tidak lagi identik dengan kemiskinan, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Drs. Bambang Kuswandi, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan agroindustri berkelanjutan menjadi fondasi utama kebijakan kampus.
“Visi Universitas Jember jelas; membangun pertanian industrial yang berkelanjutan. Karena itu kami melakukan banyak riset tentang kopi dan pendampingan masyarakat secara konsisten. Di Sidomulyo, misalnya, kami mendampingi koperasi petani kopi, sementara di Bondowoso kami mengembangkan Sekolah Kopi Raisa. Ke depan kami bahkan menyiapkan ‘pesantren kopi’ agar para santri memiliki keterampilan pengolahan kopi. Intinya, kami ingin kampus ini bukan hanya unggul secara akademik, tapi benar-benar menjadi kampus yang berdampak bagi petani dan masyarakat.”
Prof. Bambang juga menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut harus diiringi kerja sama lintas sektor agar dampaknya benar-benar dirasakan petani, terutama dalam memperkuat posisi mereka di rantai nilai kopi.
“Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah dan industri agar petani tidak hanya menjadi buruh, tetapi mampu mengelola kopinya sendiri sehingga harga menjadi lebih kompetitif. Dengan pendampingan yang tepat, angka kemiskinan di kalangan petani kopi bisa kita tekan secara signifikan,” tutupnya
Menanggapi komitmen Universitas Jember dalam memastikan petani kopi Jember tidak lagi identik dengan kemiskinan, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Drs. Bambang Kuswandi, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan agroindustri berkelanjutan menjadi fondasi utama kebijakan kampus.
“Visi Universitas Jember jelas; membangun pertanian industrial yang berkelanjutan. Karena itu kami melakukan banyak riset tentang kopi dan pendampingan masyarakat secara konsisten. Di Sidomulyo, misalnya, kami mendampingi koperasi petani kopi, sementara di Bondowoso kami mengembangkan Sekolah Kopi Raisa. Ke depan kami bahkan menyiapkan ‘pesantren kopi’ agar para santri memiliki keterampilan pengolahan kopi. Intinya, kami ingin kampus ini bukan hanya unggul secara akademik, tapi benar-benar menjadi kampus yang berdampak bagi petani dan masyarakat.”
Prof. Bambang juga menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut harus diiringi kerja sama lintas sektor agar dampaknya benar-benar dirasakan petani, terutama dalam memperkuat posisi mereka di rantai nilai kopi.
“Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah dan industri agar petani tidak hanya menjadi buruh, tetapi mampu mengelola kopinya sendiri sehingga harga menjadi lebih kompetitif. Dengan pendampingan yang tepat, angka kemiskinan di kalangan petani kopi bisa kita tekan secara signifikan,” tutupnya
(nnz)
Lihat Juga :