Universitas Jember Tegaskan Kopi Jadi Instrumen Pengentasan Kemiskinan di Tapal Kuda
Rabu, 26 November 2025 - 12:20 WIB
loading...
A
A
A
Dari sisi kebijakan nasional, Wakil Kepala BP Taskin, Ir. Iwan Sumule, memaparkan bahwa pengembangan kopi berbasis desa harus dipahami sebagai strategi konkret untuk menurunkan kemiskinan secara berkelanjutan.
“Kita harus membalik struktur pasar yang selama ini menempatkan desa hanya sebagai pemasok bahan mentah. Karena itu, industrialisasi kopi berbasis desa harus menjadi jalan baru, nilai tambahnya harus tinggal di desa, mulai dari pencucian, sangrai, pengemasan, hingga branding. Ketika nilai tambah kopi kembali ke desa, barulah petani memperoleh porsi yang layak, dan kopi benar-benar menjadi alat pembebasan sosial serta pengentasan kemiskinan di Jember dan seluruh Tapal Kuda,” tegas Iwan Sumule.
Sementara itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., menyoroti ironi bahwa Jember, yang memiliki potensi agraris justru memiliki kantong kemiskinan tertinggi, sehingga diperlukan terobosan strategis untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, menurunkan kemiskinan, serta memperkuat posisi Jember sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Tapal Kuda.
“Selama ini kita dikenal sebagai penghasil emas hitam, tetapi justru daerah yang menjadi pusat komoditas ini adalah wilayah dengan kemiskinan tertinggi. Karena itu, kami mendorong hutan sosial untuk menjadi solusi konkret. Dengan lebih dari 41 ribu hektare lahan yang dapat dikelola masyarakat, setidaknya 41 ribu rumah tangga bisa kita angkat dari kemiskinan. Ini bagian dari upaya kita menuju zero miskin ekstrem di tahun 2029 dan menjadikan Jember sebagai surga kopi Nusantara sekaligus motor penggerak ekonomi di Tapal Kuda,” jelas Fawait.
Dalam sesi diskusi, Kepala LP2M UNEJ, Prof. Dr. Yuli Witono, S.T.P., M.P., menegaskan bahwa kemajuan industri kopi tidak boleh berhenti di tingkat hilir saja. Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru berada di hulu, di mana sebagian besar kebun kopi rakyat masih tertinggal dalam inovasi.
“Hari ini bisnis kopi di hilir berkembang luar biasa, kafe muncul di kota besar sampai kota kecil, harga kopi naik, dan ini tentu kabar baik. Tapi masalah besarnya, kita justru stagnan di hulunya. Banyak tanaman kopi yang sudah berumur 40–50 tahun, kualitas kopi petani kecil cenderung rendah, dan terutama, kopi kita kaya rasa namun masih miskin inovasi. Padahal dunia sudah bergerak ke arah specialty coffee, fine robusta, hingga fermentasi. Jika inovasi di hulu tidak diperkuat, maka sebesar apa pun geliat industri hilir, petani tetap tidak akan mendapatkan nilai tambah yang layak.”
Setelah memaparkan tantangan tersebut, Prof. Yuli menekankan bahwa kopi menyimpan potensi kuat sebagai instrumen nyata pengentasan kemiskinan, asalkan nilai tambahnya benar-benar kembali ke desa, selaras dengan arah industrialisasi berbasis komunitas yang juga ditekankan BP Taskin.
“Kita harus membalik struktur pasar yang selama ini menempatkan desa hanya sebagai pemasok bahan mentah. Karena itu, industrialisasi kopi berbasis desa harus menjadi jalan baru, nilai tambahnya harus tinggal di desa, mulai dari pencucian, sangrai, pengemasan, hingga branding. Ketika nilai tambah kopi kembali ke desa, barulah petani memperoleh porsi yang layak, dan kopi benar-benar menjadi alat pembebasan sosial serta pengentasan kemiskinan di Jember dan seluruh Tapal Kuda,” tegas Iwan Sumule.
Sementara itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., menyoroti ironi bahwa Jember, yang memiliki potensi agraris justru memiliki kantong kemiskinan tertinggi, sehingga diperlukan terobosan strategis untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, menurunkan kemiskinan, serta memperkuat posisi Jember sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Tapal Kuda.
“Selama ini kita dikenal sebagai penghasil emas hitam, tetapi justru daerah yang menjadi pusat komoditas ini adalah wilayah dengan kemiskinan tertinggi. Karena itu, kami mendorong hutan sosial untuk menjadi solusi konkret. Dengan lebih dari 41 ribu hektare lahan yang dapat dikelola masyarakat, setidaknya 41 ribu rumah tangga bisa kita angkat dari kemiskinan. Ini bagian dari upaya kita menuju zero miskin ekstrem di tahun 2029 dan menjadikan Jember sebagai surga kopi Nusantara sekaligus motor penggerak ekonomi di Tapal Kuda,” jelas Fawait.
Dalam sesi diskusi, Kepala LP2M UNEJ, Prof. Dr. Yuli Witono, S.T.P., M.P., menegaskan bahwa kemajuan industri kopi tidak boleh berhenti di tingkat hilir saja. Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru berada di hulu, di mana sebagian besar kebun kopi rakyat masih tertinggal dalam inovasi.
“Hari ini bisnis kopi di hilir berkembang luar biasa, kafe muncul di kota besar sampai kota kecil, harga kopi naik, dan ini tentu kabar baik. Tapi masalah besarnya, kita justru stagnan di hulunya. Banyak tanaman kopi yang sudah berumur 40–50 tahun, kualitas kopi petani kecil cenderung rendah, dan terutama, kopi kita kaya rasa namun masih miskin inovasi. Padahal dunia sudah bergerak ke arah specialty coffee, fine robusta, hingga fermentasi. Jika inovasi di hulu tidak diperkuat, maka sebesar apa pun geliat industri hilir, petani tetap tidak akan mendapatkan nilai tambah yang layak.”
Setelah memaparkan tantangan tersebut, Prof. Yuli menekankan bahwa kopi menyimpan potensi kuat sebagai instrumen nyata pengentasan kemiskinan, asalkan nilai tambahnya benar-benar kembali ke desa, selaras dengan arah industrialisasi berbasis komunitas yang juga ditekankan BP Taskin.
Lihat Juga :