Wenny Yosselina, Ilustrator ITB yang Menjembatani Dunia Anak Disabilitas Lewat Bahasa Visual
Kamis, 18 Desember 2025 - 20:10 WIB
loading...
A
A
A
Di awal, mereka kerap tampak tak merespons atau sulit diajak berkomunikasi. Namun semuanya berubah ketika pensil dan kertas diberikan.
“Tapi waktu diminta menggambar, dia berusaha untuk menyelesaikan gambar itu karena ingin buat mamanya bangga. Mereka juga menunjukkan trust atau percaya sama kita waktu kita bikin karya bareng-bareng. Nah, di situlah karya visual itu berbicara lebih kuat dibandingkan verbal,” tandas Wenny.
Pengalaman membimbing anak autisme tak selalu mudah. Fokus yang mudah teralihkan dan tantrum menjadi tantangan tersendiri. Namun Wenny belajar bahwa proses terbaik hadir saat anak merasa bahagia dan tidak dipaksa.
“Jadi kita kondisikan, yang penting mereka bisa datang, mengerjakan sesuatu setiap di kelas. Usahakan pekerjaan itu selesai di hari itu. Itu sudah pencapaian buat mereka,” ujarnya.
Di ATC Widyatama, Wenny melihat anak neurodivergen berkembang sesuai kemampuannya. Bahkan, beberapa di antaranya mampu menghasilkan karya desain, lulus setara D3, dan hidup mandiri dengan menjual produk buatan sendiri.
Ketertarikan Wenny pada bahasa visual mendorongnya meneliti lebih dalam. Ia menemukan bahwa ilustrasi untuk anak disabilitas harus sederhana, fokus pada satu objek, berwarna lembut, dan minim distraksi.
“Kalau ramai akan mendistraksi karena fokus mereka cenderung gampang teralihkan,” kata Wenny.
Namun, pendekatan visual tidak bisa diseragamkan. Anak low vision membutuhkan kontras tinggi dan garis tebal, sementara media digital menawarkan fleksibilitas namun juga menyimpan tantangan.
“Memang enggak bisa dipukul rata, tapi ada petunjuk yang bisa jadi panduan dan bisa dikembangkan. Yang jelas, buku untuk anak-anak berkebutuhan khusus dikemas se-fun mungkin dan banyak visualnya, supaya anak-anak enggak merasa didikte, tapi bisa sama-sama belajar,” tandasnya.
Wenny menegaskan, kebutuhan media belajar anak disabilitas di Indonesia masih sangat besar dan langka.
“Tapi waktu diminta menggambar, dia berusaha untuk menyelesaikan gambar itu karena ingin buat mamanya bangga. Mereka juga menunjukkan trust atau percaya sama kita waktu kita bikin karya bareng-bareng. Nah, di situlah karya visual itu berbicara lebih kuat dibandingkan verbal,” tandas Wenny.
Pengalaman membimbing anak autisme tak selalu mudah. Fokus yang mudah teralihkan dan tantrum menjadi tantangan tersendiri. Namun Wenny belajar bahwa proses terbaik hadir saat anak merasa bahagia dan tidak dipaksa.
“Jadi kita kondisikan, yang penting mereka bisa datang, mengerjakan sesuatu setiap di kelas. Usahakan pekerjaan itu selesai di hari itu. Itu sudah pencapaian buat mereka,” ujarnya.
Di ATC Widyatama, Wenny melihat anak neurodivergen berkembang sesuai kemampuannya. Bahkan, beberapa di antaranya mampu menghasilkan karya desain, lulus setara D3, dan hidup mandiri dengan menjual produk buatan sendiri.
Merancang Buku Bersama Anak Disabilitas
Ketertarikan Wenny pada bahasa visual mendorongnya meneliti lebih dalam. Ia menemukan bahwa ilustrasi untuk anak disabilitas harus sederhana, fokus pada satu objek, berwarna lembut, dan minim distraksi.
“Kalau ramai akan mendistraksi karena fokus mereka cenderung gampang teralihkan,” kata Wenny.
Namun, pendekatan visual tidak bisa diseragamkan. Anak low vision membutuhkan kontras tinggi dan garis tebal, sementara media digital menawarkan fleksibilitas namun juga menyimpan tantangan.
“Memang enggak bisa dipukul rata, tapi ada petunjuk yang bisa jadi panduan dan bisa dikembangkan. Yang jelas, buku untuk anak-anak berkebutuhan khusus dikemas se-fun mungkin dan banyak visualnya, supaya anak-anak enggak merasa didikte, tapi bisa sama-sama belajar,” tandasnya.
Wenny menegaskan, kebutuhan media belajar anak disabilitas di Indonesia masih sangat besar dan langka.
Lihat Juga :