Wenny Yosselina, Ilustrator ITB yang Menjembatani Dunia Anak Disabilitas Lewat Bahasa Visual
Kamis, 18 Desember 2025 - 20:10 WIB
loading...
A
A
A
“Nyatanya di Indonesia kebutuhan untuk media belajar bukan hanya untuk anak neurodivergen, tetapi juga disabilitas fisik dan itu masih sangat langka,” katanya.
Kiprah Wenny membawanya ke proyek internasional Art for Goods (2022–2023) yang melibatkan 29 seniman dari berbagai negara. Risetnya tentang visual sebagai sarana terapi dan literasi mendapat sorotan khusus.
“Singapore International Foundation menyoroti bagian riset saya yang berbeda dari partisipan lain dari seluruh dunia,” ujarnya.
Dari hibah tersebut lahirlah proyek Adventures in the Symphony of Colours, kolaborasi Indonesia–Singapura yang memadukan ilustrasi dan musik inklusif. Karya audio-visual bertajuk Where is The Yellow Paint menampilkan ilustrasi khas Indonesia dengan tokoh harimau Sumatra kuning.
“Selain membuat buku, selama empat bulan peserta Adventures in the Symphony of Colours juga membawa misi pertukaran budaya melalui aktivitas bersama seperti art therapy dan membuat karya bersama,” jelas Wenny.
“Kami juga berkeliling dari Indonesia, Malaysia, dan berakhir di Singapura. Ini menunjukkan bahwa kita sanggup berkolaborasi di tengah berbagai barrier (hambatan),” paparnya.
Didukung beasiswa Tanoto Foundation sejak 2014, Wenny terus mengembangkan riset hingga jenjang S2 dan bersiap melanjutkan S3. Ia juga mengembangkan Tangible Tales, dongeng berbasis 3D printing untuk membantu sosialisasi anak autisme.
“Sebagai peneliti, aku ingin punya warna penelitian yang berbeda dalam penelitian desain, termasuk penelitian tentang ilustrasi untuk anak berkebutuhan khusus ini,” ujar Wenny.
Namun, lebih dari prestasi akademik, dedikasi Wenny lahir dari panggilan hati.
“Aku merasa bisa berbagi hidup bersama mereka (anak-anak disabilitas) secara jangka panjang. Mereka kayak cermin, mengembalikan apa yang kita lakukan untuk mereka dengan tulus. Aku juga melihat seni untuk anak disabilitas ini bukan cuma jualan rasa kasihan, tetapi bisa memotivasi semua anak untuk sebebas mungkin berekspresi,” tandas Wenny.
Kolaborasi Seni Tanpa Batas Negara
Kiprah Wenny membawanya ke proyek internasional Art for Goods (2022–2023) yang melibatkan 29 seniman dari berbagai negara. Risetnya tentang visual sebagai sarana terapi dan literasi mendapat sorotan khusus.
“Singapore International Foundation menyoroti bagian riset saya yang berbeda dari partisipan lain dari seluruh dunia,” ujarnya.
Dari hibah tersebut lahirlah proyek Adventures in the Symphony of Colours, kolaborasi Indonesia–Singapura yang memadukan ilustrasi dan musik inklusif. Karya audio-visual bertajuk Where is The Yellow Paint menampilkan ilustrasi khas Indonesia dengan tokoh harimau Sumatra kuning.
“Selain membuat buku, selama empat bulan peserta Adventures in the Symphony of Colours juga membawa misi pertukaran budaya melalui aktivitas bersama seperti art therapy dan membuat karya bersama,” jelas Wenny.
“Kami juga berkeliling dari Indonesia, Malaysia, dan berakhir di Singapura. Ini menunjukkan bahwa kita sanggup berkolaborasi di tengah berbagai barrier (hambatan),” paparnya.
Panggilan Hati yang Tak Pernah Usai
Didukung beasiswa Tanoto Foundation sejak 2014, Wenny terus mengembangkan riset hingga jenjang S2 dan bersiap melanjutkan S3. Ia juga mengembangkan Tangible Tales, dongeng berbasis 3D printing untuk membantu sosialisasi anak autisme.
“Sebagai peneliti, aku ingin punya warna penelitian yang berbeda dalam penelitian desain, termasuk penelitian tentang ilustrasi untuk anak berkebutuhan khusus ini,” ujar Wenny.
Namun, lebih dari prestasi akademik, dedikasi Wenny lahir dari panggilan hati.
“Aku merasa bisa berbagi hidup bersama mereka (anak-anak disabilitas) secara jangka panjang. Mereka kayak cermin, mengembalikan apa yang kita lakukan untuk mereka dengan tulus. Aku juga melihat seni untuk anak disabilitas ini bukan cuma jualan rasa kasihan, tetapi bisa memotivasi semua anak untuk sebebas mungkin berekspresi,” tandas Wenny.
(nnz)
Lihat Juga :