Ngkaji Pendidikan GSM Sebut Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan
Selasa, 23 Desember 2025 - 15:49 WIB
loading...
A
A
A
Rizal menilai manusia hari ini telah memegang “Api Prometheus”—nalar dan teknologi—namun tanpa kebijaksanaan. Karena itu, human reset menjadi prasyarat sebelum education reset dijalankan.
Sebagai jalan keluar, Rizal menekankan pentingnya Education Reset melalui pendekatan liberal arts, bukan sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai kerangka berpikir. “Liberal arts bukan kurikulum Barat atau mata pelajaran tambahan. Ia adalah alat untuk memulihkan manusia dalam berpikir, merasa, dan bertindak,” tambahnya. Baca juga: Membangun Pembelajaran Menyenangkan agar Anak Mencintai Sekolah
Rizal menjelaskan pendidikan saat ini kehilangan dua hal sekaligus: alat berpikir (trivium: logika, bahasa, retorika) dan rasa keteraturan alam (quadrivium: numerik dan harmoni alam). Tanpa keduanya, pendidikan berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral.
Gagasan ini, menurut Rizal, sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun manusia agar utuh dan merdeka, bukan sekadar terampil. Ngkaji Pendidikan berakhir tanpa deklarasi atau rekomendasi kebijakan. Namun kegelisahan yang tersisa justru menjadi pesan utamanya.
“Jika pendidikan terus mencetak manusia pintar tetapi tidak bijak,” kata Rizal. "Kita tidak sedang membangun masa depan, melainkan menyiapkan krisis berikutnya.”
Sebagai jalan keluar, Rizal menekankan pentingnya Education Reset melalui pendekatan liberal arts, bukan sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai kerangka berpikir. “Liberal arts bukan kurikulum Barat atau mata pelajaran tambahan. Ia adalah alat untuk memulihkan manusia dalam berpikir, merasa, dan bertindak,” tambahnya. Baca juga: Membangun Pembelajaran Menyenangkan agar Anak Mencintai Sekolah
Rizal menjelaskan pendidikan saat ini kehilangan dua hal sekaligus: alat berpikir (trivium: logika, bahasa, retorika) dan rasa keteraturan alam (quadrivium: numerik dan harmoni alam). Tanpa keduanya, pendidikan berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral.
Gagasan ini, menurut Rizal, sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun manusia agar utuh dan merdeka, bukan sekadar terampil. Ngkaji Pendidikan berakhir tanpa deklarasi atau rekomendasi kebijakan. Namun kegelisahan yang tersisa justru menjadi pesan utamanya.
“Jika pendidikan terus mencetak manusia pintar tetapi tidak bijak,” kata Rizal. "Kita tidak sedang membangun masa depan, melainkan menyiapkan krisis berikutnya.”
(poe)
Lihat Juga :