Cerita Sastia Prama Putri, Ilmuwan RI 21 Tahun di Jepang yang Bangga Berpaspor Indonesia
Rabu, 25 Februari 2026 - 15:41 WIB
loading...
A
A
A
“I first came to Japan about 20 years ago from Indonesia as research trainee, just after I finished my undergraduate study. At that time I thought I would stay in Japan only for 1 year,” tulisnya.
Setelah setahun menetap, ia mulai mencintai budaya dan kehidupan di Jepang, hingga akhirnya melanjutkan studi dengan dukungan beasiswa pemerintah Jepang.
Sastia menempuh pendidikan Sarjana Biologi di Institut Teknologi Bandung pada 2004. Ia kemudian melanjutkan program Magister dan Doktor di Osaka University pada bidang Biotechnology Engineering, masing-masing lulus pada 2008 dan 2010.
Baca juga: Berapa Duit Dana Beasiswa LPDP yang Harus Dikembalikan Suami Dwi Sasetyaningtyas?
Kini, ia bukan hanya berkarier sebagai akademisi, tetapi juga mendidik mahasiswa Jepang di salah satu kampus terbesar di negara tersebut. Ia mengaku sempat diragukan banyak orang karena dianggap mustahil bagi perempuan asing yang telah berkeluarga untuk meraih posisi kepemimpinan dan status permanen di universitas Jepang.
“Kalau dulu aku terus mendengarkan orang-orang untuk jangan pernah berkarir di negara Jepang karena mustahil seorang perempuan, bahkan asing, bahkan punya anak bisa punya posisi leadership bahkan permanen di kampus terbesar di Jepang, aku gak bakalan ada di titik ini,” tulisnya.
Setelah setahun menetap, ia mulai mencintai budaya dan kehidupan di Jepang, hingga akhirnya melanjutkan studi dengan dukungan beasiswa pemerintah Jepang.
Sastia menempuh pendidikan Sarjana Biologi di Institut Teknologi Bandung pada 2004. Ia kemudian melanjutkan program Magister dan Doktor di Osaka University pada bidang Biotechnology Engineering, masing-masing lulus pada 2008 dan 2010.
Baca juga: Berapa Duit Dana Beasiswa LPDP yang Harus Dikembalikan Suami Dwi Sasetyaningtyas?
Kini, ia bukan hanya berkarier sebagai akademisi, tetapi juga mendidik mahasiswa Jepang di salah satu kampus terbesar di negara tersebut. Ia mengaku sempat diragukan banyak orang karena dianggap mustahil bagi perempuan asing yang telah berkeluarga untuk meraih posisi kepemimpinan dan status permanen di universitas Jepang.
“Kalau dulu aku terus mendengarkan orang-orang untuk jangan pernah berkarir di negara Jepang karena mustahil seorang perempuan, bahkan asing, bahkan punya anak bisa punya posisi leadership bahkan permanen di kampus terbesar di Jepang, aku gak bakalan ada di titik ini,” tulisnya.
Lihat Juga :