Jejak Pendidikan Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel
Minggu, 01 Maret 2026 - 17:43 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Donald Trump: 'Khamenei, Salah Satu Orang Paling Jahat dalam Sejarah, Telah Meninggal'
Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia melanjutkan studi di seminari teologis di Mashhad, di mana ia menuntaskan kurikulum menengah seperti logika, filsafat, dan fiqh (hukum Islam) dalam waktu hanya lima tahun, waktu yang relatif singkat dibandingkan standar tradisional. Di sinilah, di bawah bimbingan tokoh senior termasuk Ayatollah Milani, ia mengasah pemahaman teologisnya yang mendalam.
Pada usia 18 tahun, Khamenei memutuskan melakukan perjalanan ke Najaf, Irak, salah satu pusat kajian Islam paling prestisius di dunia. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan ulama besar seperti Ayatollah Hakim dan Ayatollah Shahrudi, yang sangat memengaruhi kerangka pemikiran religiusnya. Namun, atas permintaan ayahnya, ia kembali ke Qum, Iran pada 1958 untuk melanjutkan studi tingkat lanjut yang dikenal sebagai darse kharij.
Di Qum, Khamenei memperdalam ilmu di bawah para ulama kenamaan seperti Ayatollah Borujerdi, Imam Khomeini, Ayatollah Haeri Yazdi, dan Allamah Tabatabai hingga 1964. Ketika ayahnya mengalami gangguan penglihatan, ia kembali ke Mashhad untuk merawat sekaligus belajar lebih banyak dari guru-guru senior di kota itu.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat lanjut, ia meraih gelar mujtahid, seorang ahli hukum Islam yang diakui berkompeten dalam membuat interpretasi hukum.
Khamenei kemudian mulai mengajar berbagai mata kuliah keagamaan kepada mahasiswa seminari dan perguruan tinggi, mengukuhkan dirinya bukan hanya sebagai pemimpin agama tetapi juga pendidik yang dihormati oleh generasi baru ulama.
Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia melanjutkan studi di seminari teologis di Mashhad, di mana ia menuntaskan kurikulum menengah seperti logika, filsafat, dan fiqh (hukum Islam) dalam waktu hanya lima tahun, waktu yang relatif singkat dibandingkan standar tradisional. Di sinilah, di bawah bimbingan tokoh senior termasuk Ayatollah Milani, ia mengasah pemahaman teologisnya yang mendalam.
Studi Tingkat Lanjut di Najaf dan Qum
Pada usia 18 tahun, Khamenei memutuskan melakukan perjalanan ke Najaf, Irak, salah satu pusat kajian Islam paling prestisius di dunia. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan ulama besar seperti Ayatollah Hakim dan Ayatollah Shahrudi, yang sangat memengaruhi kerangka pemikiran religiusnya. Namun, atas permintaan ayahnya, ia kembali ke Qum, Iran pada 1958 untuk melanjutkan studi tingkat lanjut yang dikenal sebagai darse kharij.
Di Qum, Khamenei memperdalam ilmu di bawah para ulama kenamaan seperti Ayatollah Borujerdi, Imam Khomeini, Ayatollah Haeri Yazdi, dan Allamah Tabatabai hingga 1964. Ketika ayahnya mengalami gangguan penglihatan, ia kembali ke Mashhad untuk merawat sekaligus belajar lebih banyak dari guru-guru senior di kota itu.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat lanjut, ia meraih gelar mujtahid, seorang ahli hukum Islam yang diakui berkompeten dalam membuat interpretasi hukum.
Khamenei kemudian mulai mengajar berbagai mata kuliah keagamaan kepada mahasiswa seminari dan perguruan tinggi, mengukuhkan dirinya bukan hanya sebagai pemimpin agama tetapi juga pendidik yang dihormati oleh generasi baru ulama.
(nnz)
Lihat Juga :