Cerita Rizky Perwira, Wisudawan Termuda S2 Kesehatan Masyarakat UGM di Usia 22 Tahun
Kamis, 30 April 2026 - 14:47 WIB
loading...
A
A
A
Sempat mengalami dilema dalam menentukan topik agar tetap realistis tetapi berdampak luas. Tetapi pada akhirnya ia bisa menyelesaikan tugas akhirnya dengan temuan menarik terkait perilaku merokok berdasar usia. “Yang muda banyak yang berupaya berhenti, tapi yang benar-benar berhasil justru yang lebih tua karena sudah terdorong penyakit,” jelasnya.
Motivasinya dalam menyelesaikan studi tidak lepas dari adanya dukungan keluarga yang menyertai serta kesadaran akan tanggung jawab profesinya di bidang kesehatan. Ia menekankan bahwa kesungguhan dalam belajar menjadi hal krusial, terutama dalam bidang kedokteran yang berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. “Kalau kita tidak belajar dengan sungguh-sungguh, nanti kita bisa salah memberi diagnosis. Jadi memang harus benar-benar serius dalam belajar,” ujarnya.
Kiki menegaskan bahwa pencapaiannya lulus di usia muda bukanlah tujuan utama dalam perjalanan studinya. Ia menilai setiap orang memiliki ritme dan fase yang berbeda dalam pendidikan, sehingga usia kelulusan tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan.
Menurutnya, hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat nyata bagi orang lain. Ia menekankan bahwa esensi pendidikan tidak terletak pada kecepatan, melainkan pada dampak yang dihasilkan. Karena pada akhirnya, bukan soal siapa paling cepat lulus, tapi bagaimana ilmu yang kita dapat bisa bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Menutup penuturannya, Kiki berpesan kepada mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan tugas akhir agar selalu menekankan konsistensi dalam usaha. Ia menyebut bahwa kunci utama bukan pada kecerdasan semata, melainkan pada ketekunan dan kedisiplinan dalam menjalani setiap tahapan.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menyeimbangkan usaha dengan doa agar proses studi dapat berjalan efektif. “Yang penting itu tekun, disiplin, telaten, dan sabar. Kita harus berikhtiar semaksimal mungkin, jangan lupa juga berdoa dan minta doa orang tua,” pungkas Kiki.
Motivasinya dalam menyelesaikan studi tidak lepas dari adanya dukungan keluarga yang menyertai serta kesadaran akan tanggung jawab profesinya di bidang kesehatan. Ia menekankan bahwa kesungguhan dalam belajar menjadi hal krusial, terutama dalam bidang kedokteran yang berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. “Kalau kita tidak belajar dengan sungguh-sungguh, nanti kita bisa salah memberi diagnosis. Jadi memang harus benar-benar serius dalam belajar,” ujarnya.
Kiki menegaskan bahwa pencapaiannya lulus di usia muda bukanlah tujuan utama dalam perjalanan studinya. Ia menilai setiap orang memiliki ritme dan fase yang berbeda dalam pendidikan, sehingga usia kelulusan tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan.
Menurutnya, hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat nyata bagi orang lain. Ia menekankan bahwa esensi pendidikan tidak terletak pada kecepatan, melainkan pada dampak yang dihasilkan. Karena pada akhirnya, bukan soal siapa paling cepat lulus, tapi bagaimana ilmu yang kita dapat bisa bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Menutup penuturannya, Kiki berpesan kepada mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan tugas akhir agar selalu menekankan konsistensi dalam usaha. Ia menyebut bahwa kunci utama bukan pada kecerdasan semata, melainkan pada ketekunan dan kedisiplinan dalam menjalani setiap tahapan.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menyeimbangkan usaha dengan doa agar proses studi dapat berjalan efektif. “Yang penting itu tekun, disiplin, telaten, dan sabar. Kita harus berikhtiar semaksimal mungkin, jangan lupa juga berdoa dan minta doa orang tua,” pungkas Kiki.
(nnz)
Lihat Juga :