Cerita Rizky Perwira, Wisudawan Termuda S2 Kesehatan Masyarakat UGM di Usia 22 Tahun
Kamis, 30 April 2026 - 14:47 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Jejak Pendidikan Jumhur Hidayat yang Resmi Dilantik Prabowo Jadi Menteri Lingkungan Hidup
Selama menjalani percepatan studi, ia menghadapi berbagai macam tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan beban akademik yang berlapis. Pada saat yang bersamaan, ia dituntut menyelesaikan skripsi S1 sekaligus mengikuti perkuliahan S2 yang berlangsung padat hampir setiap hari.
Situasi ini membuat ritme belajarnya jauh lebih intens dibandingkan mahasiswa lainnya. Meskipun di tengah tuntutan akademik tersebut, ia juga tetap aktif dalam kegiatan organisasi Tim Bantuan Medis, yang turut menyita waktu dan energi. “Di semester itu saya harus menyelesaikan skripsi dan menjalani semester satu pada program magister yang cukup padat,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menghadapi tantangan untuk beradaptasi dengan beradaptasi di lingkungan yang didominasi oleh mahasiswa senior. Perbedaan tersebut menuntutnya untuk mampu menempatkan diri, menjaga etika komunikasi, serta membangun kepercayaan dalam kerja kelompok, tanpa mengabaikan kontribusi yang ia miliki. Tekanan semakin meningkat ketika memasuki semester kedua, saat ia dituntut turun ke lapangan sekaligus menyusun rancangan awal tesis.
Kondisi tersebut membuatnya sempat mengalami kelelahan. “Sempat mengalami burnout karena banyak kegiatan yang dihadapi, tapi ya enggak apa-apa, dijalani saja,” tuturnya.
Dalam tesis nya, Kiki mengangkat topik mengenai faktor yang berhubungan dengan keberhasilan berhenti merokok di Indonesia. Ia bercerita bahwa penelitiannya menggunakan data skala nasional dengan 14 variabel yang dianalisis dengan sumber global seperti World Health Organization (WHO).
Selama menjalani percepatan studi, ia menghadapi berbagai macam tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan beban akademik yang berlapis. Pada saat yang bersamaan, ia dituntut menyelesaikan skripsi S1 sekaligus mengikuti perkuliahan S2 yang berlangsung padat hampir setiap hari.
Situasi ini membuat ritme belajarnya jauh lebih intens dibandingkan mahasiswa lainnya. Meskipun di tengah tuntutan akademik tersebut, ia juga tetap aktif dalam kegiatan organisasi Tim Bantuan Medis, yang turut menyita waktu dan energi. “Di semester itu saya harus menyelesaikan skripsi dan menjalani semester satu pada program magister yang cukup padat,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menghadapi tantangan untuk beradaptasi dengan beradaptasi di lingkungan yang didominasi oleh mahasiswa senior. Perbedaan tersebut menuntutnya untuk mampu menempatkan diri, menjaga etika komunikasi, serta membangun kepercayaan dalam kerja kelompok, tanpa mengabaikan kontribusi yang ia miliki. Tekanan semakin meningkat ketika memasuki semester kedua, saat ia dituntut turun ke lapangan sekaligus menyusun rancangan awal tesis.
Kondisi tersebut membuatnya sempat mengalami kelelahan. “Sempat mengalami burnout karena banyak kegiatan yang dihadapi, tapi ya enggak apa-apa, dijalani saja,” tuturnya.
Dalam tesis nya, Kiki mengangkat topik mengenai faktor yang berhubungan dengan keberhasilan berhenti merokok di Indonesia. Ia bercerita bahwa penelitiannya menggunakan data skala nasional dengan 14 variabel yang dianalisis dengan sumber global seperti World Health Organization (WHO).
Lihat Juga :