Perkuat Literasi Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Kisah Teladan Hadir dalam Format Digital
Senin, 08 Juni 2026 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
Ia mengutip pernyataan ilmuwan Albert Einstein yang menyebutkan bahwa dongeng berperan penting dalam membangun kecerdasan anak. Menurutnya, pesan tersebut justru semakin relevan di era digital saat ini.
“Einstein sudah mengingatkan bahwa dongeng bukan sekadar hiburan. Dongeng adalah pintu masuk bagi imajinasi, rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa, daya nalar, dan pembentukan karakter anak. Pertanyaannya, bagaimana pesan itu kita terjemahkan di era digital? Anak-anak hari ini hidup di ruang digital. Karena itu, kita perlu menghadirkan dongeng, kisah keteladanan, dan cerita rakyat ke dalam format yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujar Indra, melalui siaran pers, dikutip Senin (8/6/2026).
Menurut Indra, digital storytelling dipilih karena mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni rendahnya literasi anak dan terbatasnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas di berbagai daerah.
Ia menegaskan bahwa buku cetak tetap memiliki peran penting, namun biaya produksi dan distribusi sering kali menjadi kendala. Sementara melalui platform digital, satu karya dapat menjangkau lebih banyak anak dengan biaya yang lebih efisien dan akses yang lebih luas.
“Melalui platform digital, satu karya dapat menjangkau lebih banyak anak, lebih cepat, lebih murah, dan dapat diakses dari mana saja. Inilah ikhtiar kami membawa semangat dongeng ke ruang digital tanpa kehilangan nilai pendidikan, budaya, dan spiritualitasnya,” katanya.
Lebih jauh, Indra menilai program tersebut bukan sekadar produksi konten digital, melainkan bagian dari upaya nyata menjawab persoalan literasi yang selama puluhan tahun menjadi perhatian dalam berbagai survei internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA).
“Selama ini kita terlalu sering membicarakan krisis literasi dalam bentuk angka dan peringkat. Padahal di balik angka itu ada anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk memahami dunia melalui bacaan. Karena itu, kita harus menghadirkan solusi yang konkret, menarik, dan sesuai dengan bahasa zaman,” ujarnya.
“Einstein sudah mengingatkan bahwa dongeng bukan sekadar hiburan. Dongeng adalah pintu masuk bagi imajinasi, rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa, daya nalar, dan pembentukan karakter anak. Pertanyaannya, bagaimana pesan itu kita terjemahkan di era digital? Anak-anak hari ini hidup di ruang digital. Karena itu, kita perlu menghadirkan dongeng, kisah keteladanan, dan cerita rakyat ke dalam format yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujar Indra, melalui siaran pers, dikutip Senin (8/6/2026).
Menurut Indra, digital storytelling dipilih karena mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni rendahnya literasi anak dan terbatasnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas di berbagai daerah.
Ia menegaskan bahwa buku cetak tetap memiliki peran penting, namun biaya produksi dan distribusi sering kali menjadi kendala. Sementara melalui platform digital, satu karya dapat menjangkau lebih banyak anak dengan biaya yang lebih efisien dan akses yang lebih luas.
“Melalui platform digital, satu karya dapat menjangkau lebih banyak anak, lebih cepat, lebih murah, dan dapat diakses dari mana saja. Inilah ikhtiar kami membawa semangat dongeng ke ruang digital tanpa kehilangan nilai pendidikan, budaya, dan spiritualitasnya,” katanya.
Lebih jauh, Indra menilai program tersebut bukan sekadar produksi konten digital, melainkan bagian dari upaya nyata menjawab persoalan literasi yang selama puluhan tahun menjadi perhatian dalam berbagai survei internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA).
“Selama ini kita terlalu sering membicarakan krisis literasi dalam bentuk angka dan peringkat. Padahal di balik angka itu ada anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk memahami dunia melalui bacaan. Karena itu, kita harus menghadirkan solusi yang konkret, menarik, dan sesuai dengan bahasa zaman,” ujarnya.
Lihat Juga :