Perkuat Literasi Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Kisah Teladan Hadir dalam Format Digital
Senin, 08 Juni 2026 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan bahwa cerita merupakan media efektif untuk membangun kemampuan literasi sejak dini. Melalui cerita, anak belajar memahami bahasa, hubungan sebab-akibat, konflik, nilai moral, empati, hingga mengembangkan imajinasi.
Karena itu, kisah para santo dan santa serta cerita rakyat Nusantara dipilih sebagai dua pintu masuk yang saling melengkapi. Selain memperkenalkan nilai keteladanan, konten tersebut juga berperan dalam menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas kebangsaan.
Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia, Y. Handojo Budhisedjati, mengatakan peluncuran program ini merupakan bentuk kontribusi nyata organisasi dalam mendukung pendidikan dan pembangunan karakter bangsa.
“Pada usia yang ke-10 tahun ini, kami ingin mempersembahkan sesuatu yang konkret, bermanfaat, dan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, di mana saja. Pendidikan adalah urusan seluruh bangsa, dan literasi adalah fondasi peradaban,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., mengapresiasi hadirnya program tersebut. Menurutnya, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan dapat berperan aktif dalam menjawab tantangan pendidikan dan pembentukan karakter di era digital.
“Kami mengapresiasi karya nyata yang tidak berhenti pada wacana, tetapi menghadirkan sesuatu yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Pendidikan, literasi, dan pembentukan karakter adalah tanggung jawab bersama demi kebaikan masyarakat,” katanya.
Karena itu, kisah para santo dan santa serta cerita rakyat Nusantara dipilih sebagai dua pintu masuk yang saling melengkapi. Selain memperkenalkan nilai keteladanan, konten tersebut juga berperan dalam menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas kebangsaan.
Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia, Y. Handojo Budhisedjati, mengatakan peluncuran program ini merupakan bentuk kontribusi nyata organisasi dalam mendukung pendidikan dan pembangunan karakter bangsa.
“Pada usia yang ke-10 tahun ini, kami ingin mempersembahkan sesuatu yang konkret, bermanfaat, dan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, di mana saja. Pendidikan adalah urusan seluruh bangsa, dan literasi adalah fondasi peradaban,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., mengapresiasi hadirnya program tersebut. Menurutnya, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan dapat berperan aktif dalam menjawab tantangan pendidikan dan pembentukan karakter di era digital.
“Kami mengapresiasi karya nyata yang tidak berhenti pada wacana, tetapi menghadirkan sesuatu yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Pendidikan, literasi, dan pembentukan karakter adalah tanggung jawab bersama demi kebaikan masyarakat,” katanya.
(nnz)
Lihat Juga :