Sejumlah Daerah Diguyur Hujan Es, Ini Penjelasan Dosen IPB University
Sabtu, 26 September 2020 - 12:50 WIB
loading...
Dosen IPB University dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Dr Rini Hidayati memberikan penjelasan terkait fenomena alam hujan es. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Dosen IPB University dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Dr Rini Hidayati memberikan penjelasan terkait fenomena alam hujan es yang sempat mengguyur wilayah Bogor, Ciamis dan beberapa wilayah lainnya beberapa hari lalu. Menurutnya, hujan es yang terjadi tersebut berbeda dari hujan salju.
“Ini kejadian yang tidak sering tapi juga tidak jarang. Kejadian itu biasa terjadi kalau kondisi udara panas, dan kondisi uap air yang ada di udara cukup banyak. Kondisi ini biasanya terjadi di akhir musim kemarau atau awal musim hujan dengan udara yang panas dan lembab, terutama karena banyak uap air yang dibawa oleh angin dari lautan,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakannya, fenomena hujan es ini terkait erat dengan kejadian Equinox, dimana matahari tepat berada di equator sehingga penerimaan energi matahari di wilayah dekat equator cukup tinggi. (Baca juga: UGM Ciptakan GeNose, Alat Deteksi COVID-19 Kurang dari 2 Menit )
"Kondisi panas dan lembab tersebut menyebabkan terbentuknya awan Comulonimbus (Cb), yaitu awan yang tumbuh vertikal dari ketinggian yang rendah (kurang dari 2000 meter) sampai dengan ketinggian belasan kilometer. Awan Cb ini tumbuh vertikal hingga melampaui lapisan suhu nol derajat celsius, berpotensi terjadi pembekuan sehingga butiran hujan menjadi padat (es). Saat turun belum sepenuhnya luruh sehingga sampai ke permukaan tanah masih dalam bentuk padatan," jelasnya.
Awan ini sering menghasilkan hujan lebat yang disertai badai dan petir. Awan Cb termasuk awan yang ditakuti oleh pilot ketika menerbangkan pesawat. Para pilot harus menghindari awan Cb karena awan ini merupakan awan badai dengan turbulensi yang hebat, tambah Dr Rini. (Baca juga: Mahasiswa ITS Asal Kebumen Ciptakan Aplikasi Tukar Sampah NUKERTRASH )
“Ini kejadian yang tidak sering tapi juga tidak jarang. Kejadian itu biasa terjadi kalau kondisi udara panas, dan kondisi uap air yang ada di udara cukup banyak. Kondisi ini biasanya terjadi di akhir musim kemarau atau awal musim hujan dengan udara yang panas dan lembab, terutama karena banyak uap air yang dibawa oleh angin dari lautan,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakannya, fenomena hujan es ini terkait erat dengan kejadian Equinox, dimana matahari tepat berada di equator sehingga penerimaan energi matahari di wilayah dekat equator cukup tinggi. (Baca juga: UGM Ciptakan GeNose, Alat Deteksi COVID-19 Kurang dari 2 Menit )
"Kondisi panas dan lembab tersebut menyebabkan terbentuknya awan Comulonimbus (Cb), yaitu awan yang tumbuh vertikal dari ketinggian yang rendah (kurang dari 2000 meter) sampai dengan ketinggian belasan kilometer. Awan Cb ini tumbuh vertikal hingga melampaui lapisan suhu nol derajat celsius, berpotensi terjadi pembekuan sehingga butiran hujan menjadi padat (es). Saat turun belum sepenuhnya luruh sehingga sampai ke permukaan tanah masih dalam bentuk padatan," jelasnya.
Awan ini sering menghasilkan hujan lebat yang disertai badai dan petir. Awan Cb termasuk awan yang ditakuti oleh pilot ketika menerbangkan pesawat. Para pilot harus menghindari awan Cb karena awan ini merupakan awan badai dengan turbulensi yang hebat, tambah Dr Rini. (Baca juga: Mahasiswa ITS Asal Kebumen Ciptakan Aplikasi Tukar Sampah NUKERTRASH )
Lihat Juga :