Ornamen Header
Siswa Depresi karena PJJ Berujung Maut, KPAI: Ini Solusi yang Tepat
Siswa Depresi karena PJJ Berujung Maut, KPAI: Ini Solusi yang Tepat
sejumlah siswa sekolah menengah atas mengikuti pembelajaran jarak jauh di sebuah saung dekat rumahnya. Foto/Dok/SINDOnews
JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti seorang siswi Sekolah Menangah Atas (SMA) berinisial MI di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sekolah dan orang tua diminta memantau kondisi psikis anak yang sedang menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi COVID-19.

MI diduga bunuh diri dengan meminum racun rumput. Berdasarkan keterangan Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Jufri Natsir, korban diduga depresi karena banyaknya tugas daring dari sekolah. (Baca juga: MAN 2 Kota Malang Sabet Medali Terbanyak KSN Kemendikbud 2020)

Sebelum meninggal, korban berkeluh kesah kepada teman-teman mengenai kesulitan akses internet di rumahnya yang berada di wilayah pegunungan. Situasi itu membuat tugas sekolahnya menumpuk.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengapresiasi gerak cepat kepolisian yang mengungkapkan motif korban melakukan bunuh diri. Jika benar karena mengalami PJJ, menurutnya, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh di Kabupaten Gowa.



KPAI mendorong peran sekolah dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah mental atau psikologis akibat pandemic COVID-19 yang sudah mencapai tujuh bulan. Peran wali kelas dan guru bimbingan konseling menjadi sangat strategis dalam membantu anak-anak yang memiliki masalah psikologi, termasuk kesulitan dalam mengikuti PJJ,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Senin (19/10/2020). (Baca juga: Ribuan Relawan 'Mengajar Dari Rumah' Disebar ke Wilayahnya Masing-masing)

Mantan Kepala SMAN 3 Jakarta itu menerangkan konsultasi dapat dilakukan melalui aplikasi WhatsApp atau aplikasi lain yang mudah digunakan oleh guru dan siswa-siswi. “Kerap kali, anak-anak hanya butuh didengar. Ada saluran curhat selain ke sahabat. Bisa ke guru BK dan wali kelas agar dapat diberikan solusi cepat,” ucapnya.

KPAI menegaskan peran orang tua sangat besar dalam mencegah depresi pada anak. Retno mengungkapkan contoh masalah yang kerap dihadapi anak sekolah, seperti pertengkaran dengan teman.



Mungkin hal itu tampak sederhana bagi orang dewasa. Namun, berbeda jika kondisi tersebut dialami remaja. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal itu bisa memicu depresi pada remaja. (Baca juga: Sisihkan Ratusan Peserta, Mahasiswa UB Raih Juara Kompetisi Pangan se-Asia)

Retno menuturkan remaja sering mengalami perubahan suasana hati. Remaja yang terlihat murung atau sedih, misalnya karena patah hati, mendapat nilai jelek, atau merasa kurang perhatian dari orang tua, sering dianggap hal biasa.

“Bisa jadi itu gejala depresi pada remaja. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berlanjut dan menyebabkan munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Bahkan bunuh diri,” pungkasnya.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!