Solusi Pembelajaran Daring, FIB UI Kembangkan Metode Pembelajaran CLDS
Kamis, 11 Februari 2021 - 00:14 WIB
loading...
A
A
A
“Metode ini merupakan bagian dari upaya internasionalisasi Sejarah Publik di seluruh dunia. Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan yang pertama, yang ambil bagian dalam upaya ini. Oleh sebab itu, suatu kehormatan bagi Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbud RI untuk ambil bagian dalam upaya ini,” katanya.
Tim riset PPKB FIB UI yang terdiri dari Kresno Brahmantyo, Wina Aprilia Tirtapraja, Hilman Handoni dan perwakilan peneliti dari Kemendikbud Genardi Atmadiredja terinspirasi menciptakan metode pembelajaran ini berangkat dari adanya kesenjangan konsep literasi dan keterbatasan akses antara masyarakat kota dan desa.
Di kota-kota besar, akses terhadap koneksi internet yang memadai dan lancar cenderung mudah didapatkan. Akan tetapi, persoalannya akan jauh berbeda dengan kondisi di daerah, lebih-lebih di pelosok nusantara.
Baca juga: Bangun Desa, 3 Kementerian Kompak Terjunkan Mahasiswa ke 87 Ribu Desa
Hasil riset metode pembelajaran daring CLDS telah menghasilkan 2 modul, yaitu drakologi dan public history serta 2 season podcast. Kedua seri modul ini terdiri atas beragam video pembelajaran yang dibuat untuk memperkenalkan dan mempopulerkan kembali ilmu humaniora di tengah gempuran konten bermahzab STEM-ilmu-ilmu sains dan teknologi.
Seri video ini menjelaskan secara sederhana ilmu/ konsep/ riset dalam ilmu humaniora yang masih sangat relevan dan krusial untuk masa sekarang. Adapun luaran podcast berfokus untuk mengenalkan serta menganalisis kata-kata yang mempunyai beragam pemaknaan.
Konsep CLDS menggunakan konten yang direkam dari para narasumber ahli di bidangnya berupa MOOC, Seri Video, serta Podcast. CLDS mengusung 3 fitur keunggulan, yaitu pertama Engaging, CLDS menggunakan konten multimedia seperti teks, gambar, audio, video, dan infografik berkualitas tinggi.
Tim riset PPKB FIB UI yang terdiri dari Kresno Brahmantyo, Wina Aprilia Tirtapraja, Hilman Handoni dan perwakilan peneliti dari Kemendikbud Genardi Atmadiredja terinspirasi menciptakan metode pembelajaran ini berangkat dari adanya kesenjangan konsep literasi dan keterbatasan akses antara masyarakat kota dan desa.
Di kota-kota besar, akses terhadap koneksi internet yang memadai dan lancar cenderung mudah didapatkan. Akan tetapi, persoalannya akan jauh berbeda dengan kondisi di daerah, lebih-lebih di pelosok nusantara.
Baca juga: Bangun Desa, 3 Kementerian Kompak Terjunkan Mahasiswa ke 87 Ribu Desa
Hasil riset metode pembelajaran daring CLDS telah menghasilkan 2 modul, yaitu drakologi dan public history serta 2 season podcast. Kedua seri modul ini terdiri atas beragam video pembelajaran yang dibuat untuk memperkenalkan dan mempopulerkan kembali ilmu humaniora di tengah gempuran konten bermahzab STEM-ilmu-ilmu sains dan teknologi.
Seri video ini menjelaskan secara sederhana ilmu/ konsep/ riset dalam ilmu humaniora yang masih sangat relevan dan krusial untuk masa sekarang. Adapun luaran podcast berfokus untuk mengenalkan serta menganalisis kata-kata yang mempunyai beragam pemaknaan.
Konsep CLDS menggunakan konten yang direkam dari para narasumber ahli di bidangnya berupa MOOC, Seri Video, serta Podcast. CLDS mengusung 3 fitur keunggulan, yaitu pertama Engaging, CLDS menggunakan konten multimedia seperti teks, gambar, audio, video, dan infografik berkualitas tinggi.
Lihat Juga :