Turunkan Stunting, Ditjen Dikti Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Selasa, 06 April 2021 - 11:55 WIB
loading...
Sesditjen Dikti Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani pada webinar Kedaireka Kolaborasi Perguruan Tinggi dalam Mengatasi Stunting di Indonesia. Foto/tangkapan layar Youtube.
A
A
A
JAKARTA - Guna mempercepat implementasi penurunan kasus stunting di Indonesia , Ditjen Dikti Kemendikbud melalui platform Kedaireka berkolaborasi dengan perguruan tinggi . Permasalahan serius terhadap kasus stunting ini menjadi fokus utama, yakni penurunan kasus tersebut diharapkan segera menurun.
Indonesia merupakan salah satu dari 20 negara di dunia yang masih memiliki kasus stunting. Kasus ini merupakan permasalahan kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan asupan yang diterima oleh tubuh dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan otak dan tinggi badan kurang dari normal.
Baca juga: 4 Mahasiswa UNS Sabet Juara 1 di Lomba Video Pembelajaran Kreatif
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani memaparkan, Indonesia telah melewati batas ambang yang ditetapkan oleh WHO yakni sebesar 30%. “Seperti yang diketahui, stunting merupakan program prioritas skala nasional yang harus dicari solusinya secara bersama,” katanya pada webinar Kedaireka “Kolaborasi Perguruan Tinggi dalam Mengatasi Stunting di Indonesia” melalui siaran pers, Minggu (4/4).
Paris menjelaskan, Ditjen Dikti melalui platform Kedaireka kemudian bekerja sama dengan stakeholder melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat merubah tantangan menjadi harapan.
“Kita diminta untuk menurunkan stunting dari 29% menjadi 14%. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing kelembagaan yang ada di Indonesia. Maka dari itu, pencegahan ataupun percepatan penurunan angka stunting di Indonesia akan dikawal secara bersama-sama,” ujarnya.
Baca juga: Miris, 400 Ribu Sarjana TI Per Tahun Tak Memenuhi Kualifikasi Industri
Indonesia merupakan salah satu dari 20 negara di dunia yang masih memiliki kasus stunting. Kasus ini merupakan permasalahan kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan asupan yang diterima oleh tubuh dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan otak dan tinggi badan kurang dari normal.
Baca juga: 4 Mahasiswa UNS Sabet Juara 1 di Lomba Video Pembelajaran Kreatif
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani memaparkan, Indonesia telah melewati batas ambang yang ditetapkan oleh WHO yakni sebesar 30%. “Seperti yang diketahui, stunting merupakan program prioritas skala nasional yang harus dicari solusinya secara bersama,” katanya pada webinar Kedaireka “Kolaborasi Perguruan Tinggi dalam Mengatasi Stunting di Indonesia” melalui siaran pers, Minggu (4/4).
Paris menjelaskan, Ditjen Dikti melalui platform Kedaireka kemudian bekerja sama dengan stakeholder melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat merubah tantangan menjadi harapan.
“Kita diminta untuk menurunkan stunting dari 29% menjadi 14%. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing kelembagaan yang ada di Indonesia. Maka dari itu, pencegahan ataupun percepatan penurunan angka stunting di Indonesia akan dikawal secara bersama-sama,” ujarnya.
Baca juga: Miris, 400 Ribu Sarjana TI Per Tahun Tak Memenuhi Kualifikasi Industri
Lihat Juga :