Ornamen Header
Tips Mempublikasikan Jurnal Ilmiah Terindeks Scopus dari Guru Besar IPB
Tips Mempublikasikan Jurnal Ilmiah Terindeks Scopus dari Guru Besar IPB
Wakil Rektor IPB University Bidang Internasionalisasi, Kerja Sama dan Hubungan Alumni Prof Dodik Ridho Nurrochmat. Foto/Dok IPB University
JAKARTA - Wakil Rektor IPB University Bidang Internasionalisasi, Kerja Sama dan Hubungan Alumni Prof Dodik Ridho Nurrochmat membagikan tips bagaimana mempublikasikan jurnal ilmiah terindeks Scopus .

Pada kesempatan ini, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University ini memaparkan pengalamannya serta berupaya untuk merefleksikan pengalaman peneliti yang lain.

Baca juga: Ini 16 Universitas Terbaik di Indonesia versi QS WUR 2022, UGM Masih Kokoh

Baru-baru ini sitasi yang cukup banyak dimuat oleh penulis lain adalah jurnal ilmiah yang telah terindeks Scopus Q1. Pengakuan tersebut menggambarkan bahwa jurnal yang terindeks Q1 sudah terjamin kualitasnya sehingga layak untuk disitasi.



Dodik menceritakan, dirinya memulai menulis jurnal berawal dari tertantang untuk menulis di media populer. Namun yang menjadi pertimbangan bagi penulis yakni produktivitas tulisan perlu diperhatikan apabila ingin menulis artikel ilmiah dan artikel popular di saat yang bersamaan.

Hal tersebut, ujar Pakar Manajemen Hutan IPB University ini, karena gaya penulisan antara artikel ilmiah dan artikel popular di media massa pun berbeda.

Baca juga: UI Masuk 300 Besar Dunia Versi QS World University Ranking

“Jurnal ilmiah yang belum terindeks Q1 memang tidak serta merta tidak menjamin kualitas kepakaran. Namun pengakuan atas jurnal ilmiah apabila dilihat dari indeks scopusnya dapat membuka peluang peneliti untuk bergabung dalam kelompok peneliti elit,” katanya melalui siaran pers, Kamis (10/6).

Lebih lanjut ia menyarankan bagi para penulis muda untuk tidak terlalu banyak memasukkan ide serta harus mematahkan tekanan psikologis untuk langsung menulis jurnal terindeks Q1. Menurutnya, penulis juga harus menghindari sibuk mencari alasan yang menjadi persoalan utama dalam menghambat keinginan untuk mulai menulis.

“Dalam penulisan jurnal ilmiah, penulis juga harus memperhatikan permasalahan etika dan common sense. Misalnya dalam kesepakatan urutan nama penulis utama dan penulis dampingan karena tidak boleh diremehkan,” katanya.



Baca juga: UGM Tetap Jadi Kampus Terbaik di Indonesia versi QS World University Rankings

Di samping itu, peluang jurnal ilmiah agar dapat diterbitkan dapat dilihat dari jumlah penulis Indonesia yang menerbitkan jurnalnya di suatu negara. Semakin banyak jurnal hasil kreativitas penulis Indonesia maka peluang diterbitkan semakin besar. Lebih lagi editornya merupakan orang Indonesia.

Bahasa penulisan, katanya, juga harus disesuaikan dengan negara dimana jurnal akan diterbitkan. Selain itu, lingkup minat dan isu penting yang dibahas dalam jurnal jga penting untuk menentukan kelolosan jurnal pada tahap editor.

“Menulis artikel dan jurnal tidak selalu harus dimulai dari urutan Q4, kualitas artikel tidak ditentukan dari mana artikel terbit, namun jurnal Q1 telah melewati proses review yang lebih ketat sehingga lebih banyak disitasi oleh artikel lain yang berkualitas,” ungkapnya.

Ia menambahkan dalam menulis jurnal perlu mengggali data lama dan mencocokkannya dengan data terbaru. Ia turut memotivasi peserta pelatihan artikel ilmiah bagi dosen muda dan peneliti IPB yang hadir untuk mencoba menulis artikel dimulai dari ide.

Langkah lainnya yakni dengan membuka data dan pending manuskrip serta melakukan proofreading sebelum mengirimkan jurnal untuk dipublikasi.
(mpw)
TULIS KOMENTAR ANDA!