PPIM UIN Jakarta-CSMC Universitas Hamburg Luncurkan Database Manuskrip Nusantara
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 10:51 WIB
loading...
A
A
A
Memiliki kekayaan melimpah, namun generasi mendatang terancam tidak mampu menikmatinya. Inilah yang membuat Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia, dan Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC) Universitas Hamburg, Jerman, berinisiatif untuk membuat sebuah program yang bernama “Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA)”
Baca juga: Ini Alur Penyetaraan Ijazah Luar Negeri dan Syarat Konversi Nilai IPK
Didukung oleh Arcadia Foundation di Inggris, program ini dipimpin oleh dua professor terkemuka dalam bidang pernaskahan Nusantara yaitu Profesor Oman Fathurahman (PPIM) dan Profesor Jan van der Putten (CSMC).
DREAMSEA adalah program pelestarian manuskrip-manuskrip di Asia Tenggara. Profesor Jan van der Putten mengemukakan alasan mengapa Asia Tenggara menjadi fokus dalam program ini. Menurut ahli manuskrip Melayu ini, melestarikan manuskrip Asia Tenggara berarti turut serta dalam merawat keragaman wilayah yang semakin lama semakin terancam punah. Gelombang modernisasi juga memaksa kelompok etnis dan budaya yang kecil semakin terpinggirkan.
DREAMSEA mengadvokasi para pemilik manuskrip perorangan agar mau merawat koleksi peninggalan leluhurnya. Selain memberikan pemahaman dan tata cara perawatan fisiknya, DREAMSEA juga membantu pengawetan isi manuskripnya melalui teknologi digitalisasi atau mengalihmediakan manuskrip menjadi bentuk foto digital. Adapun fisik manuskripnya tetap dipegang oleh pemiliknya dan diberi tempat penyimpanan baru yang lebih layak.
Baca juga: Ini Alur Penyetaraan Ijazah Luar Negeri dan Syarat Konversi Nilai IPK
Didukung oleh Arcadia Foundation di Inggris, program ini dipimpin oleh dua professor terkemuka dalam bidang pernaskahan Nusantara yaitu Profesor Oman Fathurahman (PPIM) dan Profesor Jan van der Putten (CSMC).
DREAMSEA adalah program pelestarian manuskrip-manuskrip di Asia Tenggara. Profesor Jan van der Putten mengemukakan alasan mengapa Asia Tenggara menjadi fokus dalam program ini. Menurut ahli manuskrip Melayu ini, melestarikan manuskrip Asia Tenggara berarti turut serta dalam merawat keragaman wilayah yang semakin lama semakin terancam punah. Gelombang modernisasi juga memaksa kelompok etnis dan budaya yang kecil semakin terpinggirkan.
DREAMSEA mengadvokasi para pemilik manuskrip perorangan agar mau merawat koleksi peninggalan leluhurnya. Selain memberikan pemahaman dan tata cara perawatan fisiknya, DREAMSEA juga membantu pengawetan isi manuskripnya melalui teknologi digitalisasi atau mengalihmediakan manuskrip menjadi bentuk foto digital. Adapun fisik manuskripnya tetap dipegang oleh pemiliknya dan diberi tempat penyimpanan baru yang lebih layak.
Lihat Juga :