3 Kisah Guru Inspiratif, Nomor 2 Mengabdi di Daerah Terpencil dengan Gaji Rp300 Ribu
Minggu, 07 November 2021 - 23:56 WIB
loading...
A
A
A
Jumlahnya tidak banyak, hanya 25 buku. Setelahnya, W menghubungi kerabatnya untuk menyumbangkan buku. Kini, di rumahnya, Ia membuka perpustakaan yang disebut Layanan Masyarakat Baca ‘Pado Maco’.
Baca juga: 4 Kisah Perjuangan Mahasiswa Lulus Cumlaude, Nomor 3 Sambil Jadi Kuli Bangunan
Selain perpustakaan, Ia juga berkeliling desa untuk menunjukkan buku-buku dari perpustakaannya. Biasanya Ia berkeliling dari desa ke desa, dan mencari tempat ramai untuk menawarka bukunya kepada orang-orang. Selain perpustakaan gratis, Ia juga membuka PAUD sekaligus memberikan pengajaran membaca pada masyarakat di sekitar kediamannya.
2. Mengabdi di Daerah Terpencil
Jarak 12 KM yang harus ditempuhnya setiap hari tidak lantas membuat seorang guru berinisial SP menyerah. SD tempatnya mengajar, SDN Tambora di Desa Oi Bura, Kabupaten Bima, NTB, terletak di tengah perkebunan kopi. Untuk mencapai tempatnya mengajar tersebut, SP harus melewati kawasan hutan.
Pembelajaran tatap muka ini telah dinantikan SP, karena semenjak pandemi, kegiatan belajar mengajar dihentikan. Ia juga tidak dapat melangsungkan pengajaran secara daring, karena ketiadaan jaringan di daerah tersebut.
Baca juga: 4 Kisah Perjuangan Mahasiswa Lulus Cumlaude, Nomor 3 Sambil Jadi Kuli Bangunan
Selain perpustakaan, Ia juga berkeliling desa untuk menunjukkan buku-buku dari perpustakaannya. Biasanya Ia berkeliling dari desa ke desa, dan mencari tempat ramai untuk menawarka bukunya kepada orang-orang. Selain perpustakaan gratis, Ia juga membuka PAUD sekaligus memberikan pengajaran membaca pada masyarakat di sekitar kediamannya.
2. Mengabdi di Daerah Terpencil
Jarak 12 KM yang harus ditempuhnya setiap hari tidak lantas membuat seorang guru berinisial SP menyerah. SD tempatnya mengajar, SDN Tambora di Desa Oi Bura, Kabupaten Bima, NTB, terletak di tengah perkebunan kopi. Untuk mencapai tempatnya mengajar tersebut, SP harus melewati kawasan hutan.
Pembelajaran tatap muka ini telah dinantikan SP, karena semenjak pandemi, kegiatan belajar mengajar dihentikan. Ia juga tidak dapat melangsungkan pengajaran secara daring, karena ketiadaan jaringan di daerah tersebut.
Lihat Juga :