Diplomasi Budaya, UPI Kenalkan Angklung kepada Siswa Disabilitas Jepang
Selasa, 16 Agustus 2022 - 18:56 WIB
loading...
A
A
A
Dubes Heri melanjutkan, dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, Jepang sangat memperhatikan kebutuhan seluruh warganya, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. “Pengembangan dan pengenalan metode bermain angklung pada siswa disabilitas di sekolah Jepang oleh warga Indonesia merupakan kontribusi positif dalam penguatan hubungan Indonesia – Jepang,” terangnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebudayaan UPI Ayo Sunaryo, menilai kesepakatan ini menghasilkan komitmen bersama tentang implementasi kunjungan pembelajaran dan program gabungan, khususnya pengembangan pendidikan tentang seni tradisional Indonesia yang akan dijadikan materi pembelajaran seni di universitas dan sekolah luar biasa, khususnya seni angklung untuk dosen, guru seni, calon guru seni, dan siswa disabilitas.
“Seni angklung dipilih karena sangat cocok untuk pembelajaran seni khususnya pada siswa disabilitas. Angklung tidak bisa digantikan dengan alat musik yang ada di Jepang,” ucap Ayo.
Baca juga: Guru Besar UGM dan 28 Ilmuwan Internasional Jadi Mentor Peneliti Muda Indonesia
Ayo menilai kerja sama bidang seni yang telah berjalan dan penjajakan kerja sama akademik merupakan urgensi era ini. “Kami yakin seni tradisional Indonesia bukan saja dikenal, tetapi dibutuhkan untuk pembelajaran seni di sekolah-sekolah dan universitas Jepang. Kami juga mendorong agar dosen dan guru Jepang terus dapat mengembangkan materi pembelajaran seni khususnya angklung dalam kurikulum mereka,” papar Ayo.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebudayaan UPI Ayo Sunaryo, menilai kesepakatan ini menghasilkan komitmen bersama tentang implementasi kunjungan pembelajaran dan program gabungan, khususnya pengembangan pendidikan tentang seni tradisional Indonesia yang akan dijadikan materi pembelajaran seni di universitas dan sekolah luar biasa, khususnya seni angklung untuk dosen, guru seni, calon guru seni, dan siswa disabilitas.
“Seni angklung dipilih karena sangat cocok untuk pembelajaran seni khususnya pada siswa disabilitas. Angklung tidak bisa digantikan dengan alat musik yang ada di Jepang,” ucap Ayo.
Baca juga: Guru Besar UGM dan 28 Ilmuwan Internasional Jadi Mentor Peneliti Muda Indonesia
Ayo menilai kerja sama bidang seni yang telah berjalan dan penjajakan kerja sama akademik merupakan urgensi era ini. “Kami yakin seni tradisional Indonesia bukan saja dikenal, tetapi dibutuhkan untuk pembelajaran seni di sekolah-sekolah dan universitas Jepang. Kami juga mendorong agar dosen dan guru Jepang terus dapat mengembangkan materi pembelajaran seni khususnya angklung dalam kurikulum mereka,” papar Ayo.
Lihat Juga :