Penuhi Kebutuhan Sayur, ITS Rancang Greenhouse Berbasis Fotovoltaic
Kamis, 15 September 2022 - 11:58 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 4 Mahasiswa FKUI Raih Beasiswa untuk Kuliah di Belanda
Adapun tahap dalam pengimplementasian greenhouse ini diawali dengan sosialisasi kepada warga sekitar. Tahap ini diberikan penyuluhan terkait pentingnya bahan pangan sayur dan pembangunan greenhouse dengan energi matahari. Setelahnya dilakukan tahap pengadaan alat dan instalasi di lokasi pemasangan. “Program kami diterima dengan baik oleh warga sekitar yang dibuktikan dari antusias mereka untuk ikut membantu dalam setiap tahapnya,” tandas Andri.
Selain masih mengandalkan pasokan sayur dari Pulau Jawa, lanjut Andri, di Pulau Bawean memiliki tanah yang kurang mendukung untuk bercocok tanam. Kondisi tanah dan lahan di daerah tersebut sebagian besar berupa tanah lumpur dan berair asin. Hal itu diakibatkan dari pembabatan hutan bakau secara berkala. “Maka dibutuhkan teknologi untuk meningkatkan nilai produksi pangan di Pulau Bawean,” ungkapnya.
Untuk ke depannya, Andri berharap program ini dapat meningkatkan produktivitas pertanian sayur di Pulau Bawean. Karena di lokasi tersebut baru kali pertama diadakan greenhouse, tim Abmas ini berharap dapat menambah wawasan pada masyarakat. “Semoga program ini menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kemandirian pangan di Pulau Bawean,” pungkasnya.
Adapun tahap dalam pengimplementasian greenhouse ini diawali dengan sosialisasi kepada warga sekitar. Tahap ini diberikan penyuluhan terkait pentingnya bahan pangan sayur dan pembangunan greenhouse dengan energi matahari. Setelahnya dilakukan tahap pengadaan alat dan instalasi di lokasi pemasangan. “Program kami diterima dengan baik oleh warga sekitar yang dibuktikan dari antusias mereka untuk ikut membantu dalam setiap tahapnya,” tandas Andri.
Selain masih mengandalkan pasokan sayur dari Pulau Jawa, lanjut Andri, di Pulau Bawean memiliki tanah yang kurang mendukung untuk bercocok tanam. Kondisi tanah dan lahan di daerah tersebut sebagian besar berupa tanah lumpur dan berair asin. Hal itu diakibatkan dari pembabatan hutan bakau secara berkala. “Maka dibutuhkan teknologi untuk meningkatkan nilai produksi pangan di Pulau Bawean,” ungkapnya.
Untuk ke depannya, Andri berharap program ini dapat meningkatkan produktivitas pertanian sayur di Pulau Bawean. Karena di lokasi tersebut baru kali pertama diadakan greenhouse, tim Abmas ini berharap dapat menambah wawasan pada masyarakat. “Semoga program ini menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kemandirian pangan di Pulau Bawean,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :