Banyak di Belakang Meja, Mendikbud Dinilai Belum Jawab Kepercayaan Jokowi
Jum'at, 03 Juli 2020 - 11:41 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, Nadiem juga jarang sekali turun ke lapangan. Padahal Jokowi selalu minta menterinya turun ke lapangan dan mendengar persoalan langsung. ”Bahkan, Jokowi pernah menyentil Nadiem; Mas Menteri, Indonesia bukan hanya Jakarta. Ada kesan, pendekatan Nadiem juga sangat elitis. Selain itu juga soal penyerapan anggaran rendah, salah satu tamengnya adalah sudah mendapat izin presiden. Ini kemunduran karena selama ini serapan anggaran Dikbud sangat baik,” kata David Krisna Alka. (Baca juga: Mendikbud Pastikan Relaksasi Pembayaran UKT di Seluruh PTN)
Senada, Darmaningtyas menyampaikan jauh-jauh hari sudah melontarkan kritik bahwa Nadiem tidak pantas menjadi Menteri Pendidikan. “Nadiem mungkin bisa mengurus ekonomi kreatif mungkin, namun tidak cocok untuk pendidikan. Dia menilai konsep Merdeka Belajar adalah konsep pendidikan orang-orang dahulu. Dia menceritakan dirinya dulu kuliah sambil berjualan. Isi dari panduan Merdeka Belajar kurang lebih sama dengan apa yang dijalani oleh orang-orang terdahulu” ungkap Darmaningtyas.
Begitu juga dengan Azyumardi Azra yang menyebut Mendikbud tidak memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan. Pengalamannya adalah menjadi CEO Go-Jek yang merupakan startup unicorn. “Setelah 100 hari lebih menjabat sampai sekarang belum ada tanda-tanda perbaikan kinerja dalam Kemendikbud. Kemendikbud tidak mengurus pendidikan secara serius, terutama selama masa pandemi” tegas Azra.
Sementara, Retno Listyarti dalam webinar ini juga menyampaikan data dari KPAI. Menurutnya KPAI melakukan survei yang diikuti oleh 602 guru dan 1.700 siswa. “Hasil dari survei tersebut, di antaranya 56,9% responden tidak mengetahui adanya platform gratis Rumah Belajar dari Kemendikbud. Selain itu, korban dari pembelajaran jarak jauh bukan hanya siswa, melainkan juga guru. Dari survei ini, 17% guru tidak mendapatkan bimbingan apapun dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan. Sebanyak 79,9% responden siswa mengaku tidak ada interaksi dengan guru dan murid,” jelas Retno.
Senada, Darmaningtyas menyampaikan jauh-jauh hari sudah melontarkan kritik bahwa Nadiem tidak pantas menjadi Menteri Pendidikan. “Nadiem mungkin bisa mengurus ekonomi kreatif mungkin, namun tidak cocok untuk pendidikan. Dia menilai konsep Merdeka Belajar adalah konsep pendidikan orang-orang dahulu. Dia menceritakan dirinya dulu kuliah sambil berjualan. Isi dari panduan Merdeka Belajar kurang lebih sama dengan apa yang dijalani oleh orang-orang terdahulu” ungkap Darmaningtyas.
Begitu juga dengan Azyumardi Azra yang menyebut Mendikbud tidak memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan. Pengalamannya adalah menjadi CEO Go-Jek yang merupakan startup unicorn. “Setelah 100 hari lebih menjabat sampai sekarang belum ada tanda-tanda perbaikan kinerja dalam Kemendikbud. Kemendikbud tidak mengurus pendidikan secara serius, terutama selama masa pandemi” tegas Azra.
Sementara, Retno Listyarti dalam webinar ini juga menyampaikan data dari KPAI. Menurutnya KPAI melakukan survei yang diikuti oleh 602 guru dan 1.700 siswa. “Hasil dari survei tersebut, di antaranya 56,9% responden tidak mengetahui adanya platform gratis Rumah Belajar dari Kemendikbud. Selain itu, korban dari pembelajaran jarak jauh bukan hanya siswa, melainkan juga guru. Dari survei ini, 17% guru tidak mendapatkan bimbingan apapun dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan. Sebanyak 79,9% responden siswa mengaku tidak ada interaksi dengan guru dan murid,” jelas Retno.
(cip)