Kisah Sukses Penerima Beasiswa PMDSU, Jadi Dosen Sambil Berwirausaha
Sabtu, 26 November 2022 - 09:45 WIB
loading...
A
A
A
“Pengalaman mengikuti program tersebut sangat luar biasa. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya bisa ke luar negeri dan bisa melakukan riset di sana,” ucap Muhsinin.
Ia menyebut pengalaman paling berkesan selama mengikuti program PKPI di Jerman adalah belajar hal baru yang mungkin berbeda dengan yang ada di Indonesia, seperti kemajuan teknologi, tema dan inovasi riset, kultur dan budaya baru yang berbeda, serta kedisiplinan yang tinggi.
Namun demikian, tentu saja banyak tantangan yang dihadapi saat menjalani program beasiswa PMDSU, terutama terkait ketersediaan alat penunjang untuk menganalisis sampel penelitian di IPB. “Waktu itu saya kesulitan alat untuk menganalisis ekspresi protein menggunakan western blotting. Jadi, ketika saya mengikuti program Sandwich-Like ke Bonn University Germany, Alhamdulillah semua alat tersedia dan analisis data pun dapat diselesaikan,” tuturnya.
Muhsinin mengutarakan keberhasilannya dalam menyelesaikan pendidikan hingga S3 tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Bukan hanya dari keluarga atau pun kerabat terdekat, tetapi juga peranan dari Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Sc selaku promotor serta Prof. Dr. Ir. Niken Ulupi, MS; Prof. Dr. agr. Asep Gunawan, S.Pt M.Sc; dan Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS selaku co-promotor.
Baginya, sosok promotor dan co-promotor sudah seperti orang tua sendiri. Mereka tidak sekedar menjalankan tugas untuk melakukan pengawasan dan evaluasi hasil riset yang ia lakukan, tetapi selalu menciptakan suasana penelitian yang nyaman. Bahkan, Laboratorium Genetika Molekuler Fakultas Peternakan IPB seakan disulap seperti berada di rumah sendiri dilengkapi dengan ruang istirahat, kantin, musola, hingga dapur.
“Promotor juga waktu itu mencarikan dana tambahan di skema penelitian yang lain untuk menunjang riset saya. Mereka juga yang telah memberikan bekal bagaimana menjadi seorang akademisi yang bisa mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Saya sangat berterima kasih,” ujarnya seraya mengenang jasa-jasa promotor dan co-promotor.
Ia menyebut pengalaman paling berkesan selama mengikuti program PKPI di Jerman adalah belajar hal baru yang mungkin berbeda dengan yang ada di Indonesia, seperti kemajuan teknologi, tema dan inovasi riset, kultur dan budaya baru yang berbeda, serta kedisiplinan yang tinggi.
Namun demikian, tentu saja banyak tantangan yang dihadapi saat menjalani program beasiswa PMDSU, terutama terkait ketersediaan alat penunjang untuk menganalisis sampel penelitian di IPB. “Waktu itu saya kesulitan alat untuk menganalisis ekspresi protein menggunakan western blotting. Jadi, ketika saya mengikuti program Sandwich-Like ke Bonn University Germany, Alhamdulillah semua alat tersedia dan analisis data pun dapat diselesaikan,” tuturnya.
Muhsinin mengutarakan keberhasilannya dalam menyelesaikan pendidikan hingga S3 tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Bukan hanya dari keluarga atau pun kerabat terdekat, tetapi juga peranan dari Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Sc selaku promotor serta Prof. Dr. Ir. Niken Ulupi, MS; Prof. Dr. agr. Asep Gunawan, S.Pt M.Sc; dan Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS selaku co-promotor.
Baginya, sosok promotor dan co-promotor sudah seperti orang tua sendiri. Mereka tidak sekedar menjalankan tugas untuk melakukan pengawasan dan evaluasi hasil riset yang ia lakukan, tetapi selalu menciptakan suasana penelitian yang nyaman. Bahkan, Laboratorium Genetika Molekuler Fakultas Peternakan IPB seakan disulap seperti berada di rumah sendiri dilengkapi dengan ruang istirahat, kantin, musola, hingga dapur.
“Promotor juga waktu itu mencarikan dana tambahan di skema penelitian yang lain untuk menunjang riset saya. Mereka juga yang telah memberikan bekal bagaimana menjadi seorang akademisi yang bisa mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Saya sangat berterima kasih,” ujarnya seraya mengenang jasa-jasa promotor dan co-promotor.
(nnz)
Lihat Juga :