Cerita Guru Mengajar dari Rumah, Tingkat Stres Tinggi, Tekanan Darah Naik
Minggu, 12 Juli 2020 - 15:47 WIB
loading...
A
A
A
Ahda melanjutkan, untuk mata pelajaran kimia, murid-muridnya lebih berusaha untuk memperhatikan penjelasan lewat percakapan di grup Whatsapp. Misalnya, materi korosi atau perkaratan, muridnya jadi lebih memahami bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini bereaksi dan tidak terjadi begitu saja. Feedback dari muridnya pun positif dan lebih mengena ke intinya karena pola pembelajaran bisa dieksplor oleh masing-masing guru.
“Kalau PJJ ini sih, aku lebih ngukur diri aku sendiri jadinya. Kan kadang jadi guru kita diusahakan biar kurikulum tuntas. Kadang bingung ngukur kemampuan murid gimana, untuk mencapai standard aja kadang masih jauh. PJJ ngajarin kita ‘bebas’ ngerancang pembelajaran buat murid kayak apa ya enaknya. Yang penting logikanya dapet, pembelajaran kontekstualnya juga dapet,” ujarnya.
Meski demikian, Ahda juga mengalami hambatan yakni komunikasi, karena pola pengajaran hanya melalui pesan singkat Whatsapp grup. Kadang ada tumpang tindih murid yang bertanya, sesuatu yang sudah ditanyakan murid A ditanyakan kembali oleh murid B. Saat diberi tugas pun, beberapa murid sering terlewat karena belum terbiasa. Masalah sinyal dan murid yang malas mengikuti pelajaran pun ikut berkontribusi.
“Ada murid yang ngilang. Muncul awal-awal doang abis absen. Ada yang kehilangan sinyal. Ada yang beli gas dulu. Jadi, mereka kalau di rumah memang begitu hambatannya. Tinggal di daerah susah sinyal dan orang tua yang nggak semuanya punya HP, karena masih menengah ke bawah juga,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan guru honorer SMP negeri di Kabupaten Bogor, Nurul. Dia mengaku sedih karena rindu mengajar di kelas. Terlebih, keterbatasan akses internet dan gawai yang tidak dimiliki oleh semua anak murid juga menjadi tantangan tersendiri.
“Kalau PJJ ini sih, aku lebih ngukur diri aku sendiri jadinya. Kan kadang jadi guru kita diusahakan biar kurikulum tuntas. Kadang bingung ngukur kemampuan murid gimana, untuk mencapai standard aja kadang masih jauh. PJJ ngajarin kita ‘bebas’ ngerancang pembelajaran buat murid kayak apa ya enaknya. Yang penting logikanya dapet, pembelajaran kontekstualnya juga dapet,” ujarnya.
Meski demikian, Ahda juga mengalami hambatan yakni komunikasi, karena pola pengajaran hanya melalui pesan singkat Whatsapp grup. Kadang ada tumpang tindih murid yang bertanya, sesuatu yang sudah ditanyakan murid A ditanyakan kembali oleh murid B. Saat diberi tugas pun, beberapa murid sering terlewat karena belum terbiasa. Masalah sinyal dan murid yang malas mengikuti pelajaran pun ikut berkontribusi.
“Ada murid yang ngilang. Muncul awal-awal doang abis absen. Ada yang kehilangan sinyal. Ada yang beli gas dulu. Jadi, mereka kalau di rumah memang begitu hambatannya. Tinggal di daerah susah sinyal dan orang tua yang nggak semuanya punya HP, karena masih menengah ke bawah juga,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan guru honorer SMP negeri di Kabupaten Bogor, Nurul. Dia mengaku sedih karena rindu mengajar di kelas. Terlebih, keterbatasan akses internet dan gawai yang tidak dimiliki oleh semua anak murid juga menjadi tantangan tersendiri.
Lihat Juga :