Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Abdul Mu’ti Dorong PAI Inklusif-Pluralis
Kamis, 03 September 2020 - 06:15 WIB
Sementara itu, dalam pengukuhannya, Profesor Mu’ti mendorong penerapan model pembelajaran PAI bervisi inklusif-pluralis. Model pembelajaran demikian diharap memperkokoh fondasi toleransi, kerukunan, dan harmoni masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman keyakinan keagamaan, suku, budaya, dan adat istiadat. Lainnya, model pembelajaran ini diharap meminimalisir kecenderungan intoleransi yang menguat belakangan ini. (Baca juga: Selamat, Dosen Hubungan Antar Agama UIN Jakarta Raih Gelar Profesor )
Masyarakat Indonesia, ungkapnya, memiliki karakteristik sosiologis toleran, tepo sliro, dan gotong royong. Namun merujuk penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakata tahun 2018, karakteristik ini terancam oleh menguatnya kecenderungan intoleransi sejalan pemahaman keagamaan yang sempit dan disebarluaskan internet secara massif.
“Untuk membentuk sikap toleran, rukun, dan harmonis diperlukan model PAI yang inklusif-pluralis. Model ini dikembangkan di atas lima nilai pluralisme dalam al-Quran yaitu ketuhanan, kebebasan, keterbukaan, kebersamaan dan kerjasama,” katanya.
Model PAI inklusif-pluralis, jelasnya, mengakomodir nilai-nilai Islam yang mendorong toleransi atas perbedaan dan menghindarkan sikap saling melecehkan. Selanjutnya, model PAI demikian diharap membentuk anak didik yang memiliki pemahaman dan ketaatan melaksanakan kewajiban keagamaan tanpa mengorbankan sikap toleran, penerimaan dan penghormatan atas keragaman keyakinan internal-eksternal keagamaan. (Baca juga: Mendikbud Ajak Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri Kembali Bangun Negeri )
“Murid berjiwa pluralis diharap bisa menjadi aktor dan pelopor dalam membangun kehidupan berbangsa yang rukun dan damai di tengah pluralitas budaya, suku, dan agama,” tandasnya.
Masyarakat Indonesia, ungkapnya, memiliki karakteristik sosiologis toleran, tepo sliro, dan gotong royong. Namun merujuk penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakata tahun 2018, karakteristik ini terancam oleh menguatnya kecenderungan intoleransi sejalan pemahaman keagamaan yang sempit dan disebarluaskan internet secara massif.
“Untuk membentuk sikap toleran, rukun, dan harmonis diperlukan model PAI yang inklusif-pluralis. Model ini dikembangkan di atas lima nilai pluralisme dalam al-Quran yaitu ketuhanan, kebebasan, keterbukaan, kebersamaan dan kerjasama,” katanya.
Model PAI inklusif-pluralis, jelasnya, mengakomodir nilai-nilai Islam yang mendorong toleransi atas perbedaan dan menghindarkan sikap saling melecehkan. Selanjutnya, model PAI demikian diharap membentuk anak didik yang memiliki pemahaman dan ketaatan melaksanakan kewajiban keagamaan tanpa mengorbankan sikap toleran, penerimaan dan penghormatan atas keragaman keyakinan internal-eksternal keagamaan. (Baca juga: Mendikbud Ajak Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri Kembali Bangun Negeri )
“Murid berjiwa pluralis diharap bisa menjadi aktor dan pelopor dalam membangun kehidupan berbangsa yang rukun dan damai di tengah pluralitas budaya, suku, dan agama,” tandasnya.
Lihat Juga :