SMA Pradita Dirgantara Dirancang Hasilkan Lulusan Berkompetensi Global
Kamis, 14 Januari 2021 - 20:52 WIB
Rhenald Khasali sebagai pembicara pertama memaparkan materi mengenai SMA Pradita Dirgantara sebagai Icon Disrupsi Pendidikan Indonesia. Disrupsi adalah inovasi yang akan menggantikan sistem lama dengan cara-cara baru.
Rhenald mengatakan, disrupsi itu bersifat inovatif. Jangan dianggap sebagai ancaman, tapi inovasi yang memudahkan.
Di bidang pendidikan, kata dia, tantangan pendidikan di era disrupsi ini pertama, yaitu digital devide, dalam artian pemerataan teknologi di daerah Indonesia tidak merata. Para pendidik harus pandai menentukan bagaimana cara untuk mengajar. Tantangan kedua, metodologi yang meliputi bagaimana metode yang digunakan. Baca juga: KSAU: SMA Pradita Dirgantara Fokus Karakter Kedirgantaraan dan Pancasila
Ketiga, memisahkan antara pengetahuan dan kecerdasan. "Di sekolah sebaiknya jangan hanya diajarkan pengetahuan namun juga membangun kecerdasan dengan memberikan tantangan. Keempat, menggabungkan antara low order thinking (menerapkan, memahami dan mengingat) dan high order thinking (menganalisa, mengevaluasi dan menciptakan), yang terakhir, yaitu obseletism yaitu menghubungkan antara materi sekolah dengan kebutuhan sehingga materi yang diajarkan relevan dengan kehidupan," tuturnya.
Dalam siaran persnya, SMA Pradita Dirgantara dirancang untuk menghasilkan anak didik yang setelah lulus memiliki lgobal competences, global mindset, global leadership, international recognition dan respect terhadap budaya dan alam Indonesia. SMA Pradita Dirgantara mengembangkan kurikulum berdasarkan empat aspek, yaitu spiritual, sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Rhenald mengatakan, disrupsi itu bersifat inovatif. Jangan dianggap sebagai ancaman, tapi inovasi yang memudahkan.
Di bidang pendidikan, kata dia, tantangan pendidikan di era disrupsi ini pertama, yaitu digital devide, dalam artian pemerataan teknologi di daerah Indonesia tidak merata. Para pendidik harus pandai menentukan bagaimana cara untuk mengajar. Tantangan kedua, metodologi yang meliputi bagaimana metode yang digunakan. Baca juga: KSAU: SMA Pradita Dirgantara Fokus Karakter Kedirgantaraan dan Pancasila
Ketiga, memisahkan antara pengetahuan dan kecerdasan. "Di sekolah sebaiknya jangan hanya diajarkan pengetahuan namun juga membangun kecerdasan dengan memberikan tantangan. Keempat, menggabungkan antara low order thinking (menerapkan, memahami dan mengingat) dan high order thinking (menganalisa, mengevaluasi dan menciptakan), yang terakhir, yaitu obseletism yaitu menghubungkan antara materi sekolah dengan kebutuhan sehingga materi yang diajarkan relevan dengan kehidupan," tuturnya.
Dalam siaran persnya, SMA Pradita Dirgantara dirancang untuk menghasilkan anak didik yang setelah lulus memiliki lgobal competences, global mindset, global leadership, international recognition dan respect terhadap budaya dan alam Indonesia. SMA Pradita Dirgantara mengembangkan kurikulum berdasarkan empat aspek, yaitu spiritual, sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Lihat Juga :