Sosok Ridi Ferdiana, Profesor Muda UGM dan Risetnya yang Unik, Salah Satunya Teliti Bahasa Kucing
Kamis, 05 Oktober 2023 - 10:10 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Rektor ITB AD Jakarta: Kebijakan Penerimaan Mahasiswa Baru Perlu Diatur Ulang
Selama 15 tahun berkarier di UGM, Ridi memang tak hanya datang ke kampus dan menjalankan profesi sebagai dosen. Namun dia juga menghabiskan waktu di laboratorium dan mengurusi riset di depan komputer.
Setiap hari ia selalu datang lebih pagi ke kampus dan pulang kerumah hingga jam 5 sore. Sesekali ia datang ke perpustakaan untuk membaca buku.
Setiap datang ke perpustakaan Fakultas, Ridi bisa menghabiskan waktu hingga 3 jam untuk membaca buku dalam rangka menggali ide riset terbaru yang ingin ia lakukan.
“Ada ruang kecil di lantai tiga, di situ saya kumpulkan banyak buku untuk saya baca. Lalu, buat resume satu-satu. Saya akan pilih ide riset yang mungkin bisa saya lakukan, misalnya riset untuk budget yang bisa dipakai, paling tidak dapat budget Rp15 juta dari prodi atau Rp300 juta dari Fakultas,” urainya.
Ridi juga tidak segan-segan untuk berlangganan jurnal yang tidak disediakan oleh fakultas atau Universitas agar mendukung riset yang ia lakukan. Bahkan beberapa kerja sama riset yang sudah dia lakukan diantaranya dengan Microsoft Jepang tahun 2019 melakukan riset kecerdasan buatan berempati.
“Yang kita lakukan bagaimana AI itu paham unggah-ungguh. Bisa ngomong dengan user yang sebaya atau seumuran sehingga bisa lebih gaul,” katanya.
Soal tips agar seorang dosen bisa mengejar gelar profesor lebih cepat seperti dia di bawah usia 40 tahun, menurut Ridi, seorang dosen tetaplah konsisten dalam mengajar dan riset secara bersamaan dan berani berkata tidak pada hal yang tidak sesuai dengan kompetensinya.
“Misalnya kita ditawari sebuah pekerjaan tidak kompeten berujung jadi administrasi, lebih baik ditolak. Tidak semuanya kita tolak, namun tidak semua kita terima, tapi ada personal target yang mesti kita gapai,” pungkasnya.
Selama 15 tahun berkarier di UGM, Ridi memang tak hanya datang ke kampus dan menjalankan profesi sebagai dosen. Namun dia juga menghabiskan waktu di laboratorium dan mengurusi riset di depan komputer.
Setiap hari ia selalu datang lebih pagi ke kampus dan pulang kerumah hingga jam 5 sore. Sesekali ia datang ke perpustakaan untuk membaca buku.
Setiap datang ke perpustakaan Fakultas, Ridi bisa menghabiskan waktu hingga 3 jam untuk membaca buku dalam rangka menggali ide riset terbaru yang ingin ia lakukan.
“Ada ruang kecil di lantai tiga, di situ saya kumpulkan banyak buku untuk saya baca. Lalu, buat resume satu-satu. Saya akan pilih ide riset yang mungkin bisa saya lakukan, misalnya riset untuk budget yang bisa dipakai, paling tidak dapat budget Rp15 juta dari prodi atau Rp300 juta dari Fakultas,” urainya.
Ridi juga tidak segan-segan untuk berlangganan jurnal yang tidak disediakan oleh fakultas atau Universitas agar mendukung riset yang ia lakukan. Bahkan beberapa kerja sama riset yang sudah dia lakukan diantaranya dengan Microsoft Jepang tahun 2019 melakukan riset kecerdasan buatan berempati.
“Yang kita lakukan bagaimana AI itu paham unggah-ungguh. Bisa ngomong dengan user yang sebaya atau seumuran sehingga bisa lebih gaul,” katanya.
Tips Meraih Gelar Profesor di Usia Muda
Soal tips agar seorang dosen bisa mengejar gelar profesor lebih cepat seperti dia di bawah usia 40 tahun, menurut Ridi, seorang dosen tetaplah konsisten dalam mengajar dan riset secara bersamaan dan berani berkata tidak pada hal yang tidak sesuai dengan kompetensinya.
“Misalnya kita ditawari sebuah pekerjaan tidak kompeten berujung jadi administrasi, lebih baik ditolak. Tidak semuanya kita tolak, namun tidak semua kita terima, tapi ada personal target yang mesti kita gapai,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :