Ornamen Header
Kadisdik Taput: Pembelajaran Disesuaikan Karakteristik dan Kondisi Sekolah
Kadisdik Taput: Pembelajaran Disesuaikan Karakteristik dan Kondisi Sekolah
Guru di Tapanuli Utara melaksanakan pembelajaran Luring dengan belajar kelompok di tengah pandemi. Foto/Robert Fernando H Siregar.
TAPANULI UTARA - Berbagai upaya dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan pihak sekolah, agar proses pembelajaran dalam Tahun Ajaran (TA) baru tahun 2020-2021, tetap terlaksana di tengah pandemi COVID-19 atau virus Corona. Secara umum, proses belajar-mengajar atau tatap muka dengan normal di sekolah, hingga saat ini belum boleh dilaksanakan.

Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Provinsi Sumatera Utara, Bontor A Hutasoit menerangkan, berbagai upaya telah dilaksanakan agar proses pembelajaran tetap terlaksana di tengah pandemi, yaitu proses belajar dalam jaringan (Daring), luar jaringan (Luring) dan bahkan memadu kedua-duanya. (Baca juga: Mendagri Minta Daerah Gelar Simulasi Sebelum Sekolah Tatap Muka Dimulai)

"Dinas Pendidikan Taput, tidak ada membuat formula tunggal bagi Kepala Sekolah ataupun pihak sekolah dalam melaksanakan proses belajar-mengajar ditengah pandemi. Walau tatap muka belum boleh dilaksanakan, namun bagaimana cara agar pembelajaran di TA baru 2020 ini tetap terlaksana,"terang Bontor A Hutasoit, Senin (3/8/2020).

Bontor A Hutasoit menyebut, silahkan Kepala Sekolah dan pihak sekolah untuk merumuskan seperti apa yang yang akan mereka laksanakan, tentunya, dengan tetap memperhatikan karakteristik daripada kondisi sekolah, kondisi anak-anak didik dan orangtua anak didik serta kondisi guru.



Bagi sekolah yang mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan Daring, jelas Bontor A Hutasoit, dipersilakan. Akan tetapi, apabila ada siswa yang tidak memiliki fasilitas dan akses jaringan internet, guru harus siap mengunjungi siswi tersebut ke rumah. (Baca juga: Mendagri Nilai Pertemuan Tatap Muka Sekolah Tak Hanya Dilihat dari Warna Zonasi)

"Sebanyak 466 unit Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, baik Negeri maupun Swasta yang tersebar di 15 Kecamatan se-Taput, melakukan proses pembelajaran di TA baru ini dengan berbagai metode dan dominan pihak sekolah melaksanakan metode belajar kelompok. Iya mungkin hal ini, disebabkan karateristik dan kondisi,"ujar Bontor A Hutasoit.

Proses belajar-mengajar Luring, kata Bontor A Hutasoit, dilaksakan pihak sekolah dengan Visit Home atau pelaksanaannya variatif dan bisa berbeda metode proses belajar-mengajarnya dari sekolah yang satu dengan sekolah lainnya.



Metode pembelajaran Visit Home itu, imbuh Bontor A Hutasoit, jangan disalahpahami menjadi seperti pertemuan tatap muka atau memindahkan kelas dari sekolah ke rumah dan bukan seperti itu. Visit Home atau pembelajaran dengan metode belajar kelompok, sangat jauh berbeda dengan bertatap muka di sekolah dengan skala besar di tengah pandemi.

"Guru mungkin berinisiatif membentuk belajar kelompok, juga mempertimbangkan domisili siswa yang berdekatan. Dan kita juga menghimbau kepada guru agar belajar kelompok itu maksimalnya 5 orang siswa, untuk tetap menjaga physical distacing. Waktunya pembelajaran cukup setengah sampai satu jam dan jangan dilakukan setiap hari atau baiknya dilakukan terjadwal dengan kelompok belajar lainnya,"ucap Bontor A Hutasoit.

Silahkan pihak sekolah berbuat yang terbaik, pungkas Bontor A Hutasoit, dalam melaksanakan proses pembelajaran di tengah pandemi. Tidak ada formula tunggal, karena pihak sekolah yang lebih memahami karakteristik, kondisi sekolah dan kondisi anak didik.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!