Selama Pandemi, Ciptakan Pendidikan Menyenangkan bagi Anak di Rumah
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 08:14 WIB
loading...
A
A
A
“Peringatan Ketua Umum IDAI ini harus disimak baik-baik oleh orang tua. Katanya, apakah rela anak sakit dan orang tua tidak bisa mendampingi di rumah sakit?” ujarnya.
Kak Seto mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan belajar daring di rumah. Dia juga meminta guru agar tidak memaksakan pencapaian nilai akademik atau pemenuhan kurikulum kepada anak selama belajar daring. (Baca juga: Ilmuwan Jepang Bangunkan Mikroba yang Tertidur Selama 100 Juta Tahun)
“Kami dari awal menganjurkan bahwa ini adalah keadaan darurat sehingga kurikulum pendidikan yang dipakai juga harus darurat. Apa itu? Kurikulum yang menyenangkan anak, kurikulum kehidupan. Ayo ajak anak-anak mendongeng, ciptakan suasana gembira,” paparnya.
Kak Seto yang juga pengajar di universitas ini mengatakan, sejatinya pendidikan itu mengutamakan lima hal. Pertama yang diprioritaskan bukan soal iptek, melainkan etika, yakni mengajari anak bagaimana cara bersopan-santun dan menghargai sesama. Kedua adalah estetika, yakni bagaimana anak belajar keindahan dan kerapian. Di masa pandemi ini anak bisa diajari bagaimana cara menata rumah, mengatur meja belajar, merapikan pakaian sendiri, dan lain-lain.
Pelajaran seperti itu menurut Kak Seto lebih menyenangkan daripada seharian anak diminta menonton layar. “Setelah etika dan estetika, berikutnya baru unsur iptek. Iptek pun bisa dengan cara menyenangkan, bukan sekadar belajar kalkulus, tapi bagaimana belajar menghadapi hidup. Bayangkan berapa anak yang tidak bisa tidur, kabur tengah malam karena stres dengan pelajaran,” ujarnya. (Baca juga: Turki-Yunani Memanas, Ini Perbandingan Kekuatan Militernya)
Kak Seto mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan belajar daring di rumah. Dia juga meminta guru agar tidak memaksakan pencapaian nilai akademik atau pemenuhan kurikulum kepada anak selama belajar daring. (Baca juga: Ilmuwan Jepang Bangunkan Mikroba yang Tertidur Selama 100 Juta Tahun)
“Kami dari awal menganjurkan bahwa ini adalah keadaan darurat sehingga kurikulum pendidikan yang dipakai juga harus darurat. Apa itu? Kurikulum yang menyenangkan anak, kurikulum kehidupan. Ayo ajak anak-anak mendongeng, ciptakan suasana gembira,” paparnya.
Kak Seto yang juga pengajar di universitas ini mengatakan, sejatinya pendidikan itu mengutamakan lima hal. Pertama yang diprioritaskan bukan soal iptek, melainkan etika, yakni mengajari anak bagaimana cara bersopan-santun dan menghargai sesama. Kedua adalah estetika, yakni bagaimana anak belajar keindahan dan kerapian. Di masa pandemi ini anak bisa diajari bagaimana cara menata rumah, mengatur meja belajar, merapikan pakaian sendiri, dan lain-lain.
Pelajaran seperti itu menurut Kak Seto lebih menyenangkan daripada seharian anak diminta menonton layar. “Setelah etika dan estetika, berikutnya baru unsur iptek. Iptek pun bisa dengan cara menyenangkan, bukan sekadar belajar kalkulus, tapi bagaimana belajar menghadapi hidup. Bayangkan berapa anak yang tidak bisa tidur, kabur tengah malam karena stres dengan pelajaran,” ujarnya. (Baca juga: Turki-Yunani Memanas, Ini Perbandingan Kekuatan Militernya)
Lihat Juga :