FSRD IKJ Gelar Seminar Internasional Bahas Seni dan Desain di Era Teknologi
Selasa, 20 Agustus 2024 - 15:48 WIB
loading...
A
A
A
Pada sisi lain, pemikiran ini akan melahirkan refleksi pada dimensi teknologi, sosial, politik, budaya, etika dan estetika dari sistem yang sifatnya hibrid dan multi dimensi. Selain itu, penting adanya pendekatan pada keterlibatan terhadap warisan tradisi melalui jalinan kolaborasi, aplikasi dan keahlian dalam aspek teknologi.
Anindyo juga menegaskan bahwa para seniman kini semakin memanfaatkan teknologi digital sebagai alat untuk mengekspresikan diri dan menciptakan bentuk-bentuk baru dalam seni dan desain. Hal ini mendorong pendekatan inovatif dalam menciptakan karya-karya yang mampu mendefinisikan ulang makna menjadi seniman di abad ke-21.
Baca juga: 54 Tahun IKJ dan Tantangan Sekolah Seni di Tengah Perkembangan Teknologi
Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid dalam pidato pembukanya, menekankan bahwa masa depan seni dan desain di era digital akan dibentuk oleh interaksi kompleks antara teknologi, etika, dan lingkungan. Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan kritis dalam menghadapi perkembangan ini, serta eksplorasi cara-cara baru dalam penggunaan teknologi untuk meningkatkan kreativitas, bukan sebaliknya.
Prof. Keat Ong, salah satu pembicara, menyoroti perlunya inovasi dalam seni dan desain yang berakar pada warisan tradisi. Ia mengungkapkan pentingnya menengok kembali warisan budaya kita dan menginterpretasikannya dengan metode riset yang baru. Menurutnya, tiga aspek utama yang harus diperhatikan dalam konteks ini adalah masyarakat, tempat, dan produk.
Seni tradisional memperlihatkan bagaimana untuk dipresentasikan dalam sebuah desain masa kini. Muhammad Rivai Riza mendiskusikan A24 sebagai studio distribusi film independen yang didirikan tahun 2012 yang produksi pertamanya Moonlight (2016) memenangkan Oscar untuk Film Terbaik dan selanjutnya menjadi jaminan mutu akan karya karya film yang berkarakter sekaligus mendorong tumbuhnya ide ide baru, menabrak konvensi, menantang penonton.
Anindyo juga menegaskan bahwa para seniman kini semakin memanfaatkan teknologi digital sebagai alat untuk mengekspresikan diri dan menciptakan bentuk-bentuk baru dalam seni dan desain. Hal ini mendorong pendekatan inovatif dalam menciptakan karya-karya yang mampu mendefinisikan ulang makna menjadi seniman di abad ke-21.
Baca juga: 54 Tahun IKJ dan Tantangan Sekolah Seni di Tengah Perkembangan Teknologi
Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid dalam pidato pembukanya, menekankan bahwa masa depan seni dan desain di era digital akan dibentuk oleh interaksi kompleks antara teknologi, etika, dan lingkungan. Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan kritis dalam menghadapi perkembangan ini, serta eksplorasi cara-cara baru dalam penggunaan teknologi untuk meningkatkan kreativitas, bukan sebaliknya.
Prof. Keat Ong, salah satu pembicara, menyoroti perlunya inovasi dalam seni dan desain yang berakar pada warisan tradisi. Ia mengungkapkan pentingnya menengok kembali warisan budaya kita dan menginterpretasikannya dengan metode riset yang baru. Menurutnya, tiga aspek utama yang harus diperhatikan dalam konteks ini adalah masyarakat, tempat, dan produk.
Seni tradisional memperlihatkan bagaimana untuk dipresentasikan dalam sebuah desain masa kini. Muhammad Rivai Riza mendiskusikan A24 sebagai studio distribusi film independen yang didirikan tahun 2012 yang produksi pertamanya Moonlight (2016) memenangkan Oscar untuk Film Terbaik dan selanjutnya menjadi jaminan mutu akan karya karya film yang berkarakter sekaligus mendorong tumbuhnya ide ide baru, menabrak konvensi, menantang penonton.
Lihat Juga :