Belajar Tanpa Batas, Peran Platform Digital Penting dalam Pelatihan Guru
Kamis, 24 April 2025 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun penggunaan teknologi dalam pelatihan guru masih relatif baru dan dihadapkan pada tantangan seperti rendahnya kepercayaan diri guru terhadap kemampuan digital serta keterbatasan unsur praktik dan pendampingan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat secara signifikan meningkatkan persepsi dan keterampilan digital guru.
Sebelum diperkenalkan pada Learning Management System (LMS), seluruh responden menilai kemampuan digital mereka dalam kategori rendah. Setelah menggunakan LMS selama satu bulan, jumlah responden yang menilai dirinya masih dalam kategori kemampuan rendah menurun menjadi 32%.
Sebanyak 43% responden menilai kemampuan mereka memadai, dan 25% lainnya menilai diri mereka memiliki kemampuan baik.
“Studi ini memberikan pertimbangan praktis bagi para pembuat kebijakan dan praktisi di Indonesia serta negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa, dengan menekankan pentingnya strategi yang beragam dan disesuaikan dengan konteks, serta investasi pada struktur dukungan lokal seperti komunitas guru untuk menyukseskan transformasi digital dalam pendidikan guru,” tutup Murni.
Asyia Kazmi, Policy Lead di Gates Foundation, yang turut hadir dalam sesi presentasi Tanoto Foundation di CIES, menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan yang ditawarkan. Ia menyoroti bagaimana Tanoto Foundation tidak hanya merancang program di atas kertas, tetapi juga secara serius mempertimbangkan implementasi di lapangan serta pentingnya konteks lokal dalam pelaksanaan pelatihan guru.
Golda mengungkapkan sebuah kebanggaan tersendiri bagi Tanoto Foundation hasil riset tersebut dapat terpilih dari banyaknya peserta lintas negara. “Pengakuan di komunitas akademisi internasional ini menjadi motivasi bagi kami di Tanoto Foundation untuk dapat terus menciptakan program berbasis data dan berdampak bagi ekosistem pendidikan Indonesia,” sambung Golda.
Pengakuan atas studi ini memperlihatkan pentingnya inovasi berbasis konteks dalam menghadapi tantangan pendidikan global. Tanoto Foundation sendiri yang berfokus pada peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan berkomitmen untuk mendukung pengembangan solusi berbasis bukti di berbagai lini Pendidikan.
Temuan dari studi ini diharapkan dapat memperkaya diskusi global tentang masa depan pengembangan profesional guru, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.
Comparative and International Education Society (CIES) sendiri merupakan organisasi akademik internasional yang didirikan pada tahun 1956. Berbasis di Amerika Serikat, CIES memfokuskan kegiatannya pada kajian dan praktik pendidikan komparatif dan internasional.
Setiap tahun, CIES menggelar konferensi tahunan yang mempertemukan lebih dari dua ribu peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan temuan riset dan tren terkini di dunia pendidikan.
Sebelum diperkenalkan pada Learning Management System (LMS), seluruh responden menilai kemampuan digital mereka dalam kategori rendah. Setelah menggunakan LMS selama satu bulan, jumlah responden yang menilai dirinya masih dalam kategori kemampuan rendah menurun menjadi 32%.
Sebanyak 43% responden menilai kemampuan mereka memadai, dan 25% lainnya menilai diri mereka memiliki kemampuan baik.
“Studi ini memberikan pertimbangan praktis bagi para pembuat kebijakan dan praktisi di Indonesia serta negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa, dengan menekankan pentingnya strategi yang beragam dan disesuaikan dengan konteks, serta investasi pada struktur dukungan lokal seperti komunitas guru untuk menyukseskan transformasi digital dalam pendidikan guru,” tutup Murni.
Asyia Kazmi, Policy Lead di Gates Foundation, yang turut hadir dalam sesi presentasi Tanoto Foundation di CIES, menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan yang ditawarkan. Ia menyoroti bagaimana Tanoto Foundation tidak hanya merancang program di atas kertas, tetapi juga secara serius mempertimbangkan implementasi di lapangan serta pentingnya konteks lokal dalam pelaksanaan pelatihan guru.
Golda mengungkapkan sebuah kebanggaan tersendiri bagi Tanoto Foundation hasil riset tersebut dapat terpilih dari banyaknya peserta lintas negara. “Pengakuan di komunitas akademisi internasional ini menjadi motivasi bagi kami di Tanoto Foundation untuk dapat terus menciptakan program berbasis data dan berdampak bagi ekosistem pendidikan Indonesia,” sambung Golda.
Pengakuan atas studi ini memperlihatkan pentingnya inovasi berbasis konteks dalam menghadapi tantangan pendidikan global. Tanoto Foundation sendiri yang berfokus pada peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan berkomitmen untuk mendukung pengembangan solusi berbasis bukti di berbagai lini Pendidikan.
Temuan dari studi ini diharapkan dapat memperkaya diskusi global tentang masa depan pengembangan profesional guru, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.
Comparative and International Education Society (CIES) sendiri merupakan organisasi akademik internasional yang didirikan pada tahun 1956. Berbasis di Amerika Serikat, CIES memfokuskan kegiatannya pada kajian dan praktik pendidikan komparatif dan internasional.
Setiap tahun, CIES menggelar konferensi tahunan yang mempertemukan lebih dari dua ribu peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan temuan riset dan tren terkini di dunia pendidikan.
(nnz)
Lihat Juga :