UAI dan Kedubes UEA Sukses Gelar Forum Bahasa Arab Global
Rabu, 05 November 2025 - 11:41 WIB
loading...
A
A
A
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan final debat Bahasa Arab antar universitas yang dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tidak hanya itu, acara ini juga menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Peran UAE dalam Menyebarkan Bahasa Arab”. Seminar diisi oleh dua pembicara utama, yaitu Dr. Ali Bin Tamim, Direktur Abu Dhabi Center untuk Bahasa Arab, dan Prof. Dr. Faisal Mubarak Seff, Lc., M.A., dari IMLA Indonesia
Forum Budaya UEA 2025 menjadi wujud nyata dari komitmen Universitas Al-Azhar Indonesia dalam memperkuat peran diplomasi budaya dan bahasa Arab di kancah global. Melalui sinergi dengan Kedutaan Besar Uni Emirat Arab dan berbagai lembaga pendidikan, UAI terus berupaya menjadi penghubung peradaban antara Indonesia dan dunia Arab.
Forum Budaya UEA 2025 hari kedua di UAI : Mengenal Lebih Dekat Uni Emirat Arab
Rangkaian Forum Budaya UEA 2025 “UAE as the Bridge of Arabic Language to the World” yang diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama Kedutaan Besar Uni Emirat Arab (UEA) berlanjut ke hari kedua dengan sesi sharing dan diskusi interaktif bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Uni Emirat Arab.”
Sharing session ini disampaikan oleh lima narasumber yang merupakan alumni universitas di UEA, yaitu Muhammad Mualfi Fahrul Fanani, B.A., Faiz Ilyas Mukhtar, B.Sc., Muhamad Paisal Akbar, B.A., dan Amirah Husein Ahmad, B.A. Saling berbagi pengalaman menempuh pendidikan di negeri Teluk tersebut. Menurut mereka, UEA bukan hanya dikenal lewat ikon-ikon modern seperti Dubai dan Burj Khalifa, tetapi juga melalui komitmennya dalam mengembangkan pendidikan, kebudayaan, dan inovasi global.
Para narasumber menjelaskan bahwa sejarah berdirinya Uni Emirat Arab dimulai pada 2 Desember 1971, ketika enam dinasti sepakat membentuk satu negara, yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Fujairah, Umm Al-Quwain, dan Ajman. Kemudian pada 10 Februari 1972, Ras Al-Khaimah bergabung sebagai emirat ketujuh. Abu Dhabi menjadi ibu kota negara, sementara Sharjah dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan.
Dalam sesi ini, mereka menggambarkan sistem pendidikan di UEA yang modern, tertib, dan multikultural, di mana berbagai bangsa hidup berdampingan dengan harmonis. Para narasumber juga memperkenalkan tradisi khas khushmak atau salam hidung yang melambangkan rasa hormat dan keakraban dalam budaya Arab. Mereka menambahkan bahwa pemisahan aktivitas pria dan wanita di UEA justru menciptakan rasa aman serta menjaga privasi perempuan.
Forum Budaya UEA 2025 menjadi wujud nyata dari komitmen Universitas Al-Azhar Indonesia dalam memperkuat peran diplomasi budaya dan bahasa Arab di kancah global. Melalui sinergi dengan Kedutaan Besar Uni Emirat Arab dan berbagai lembaga pendidikan, UAI terus berupaya menjadi penghubung peradaban antara Indonesia dan dunia Arab.
Forum Budaya UEA 2025 hari kedua di UAI : Mengenal Lebih Dekat Uni Emirat Arab
Rangkaian Forum Budaya UEA 2025 “UAE as the Bridge of Arabic Language to the World” yang diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama Kedutaan Besar Uni Emirat Arab (UEA) berlanjut ke hari kedua dengan sesi sharing dan diskusi interaktif bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Uni Emirat Arab.”
Sharing session ini disampaikan oleh lima narasumber yang merupakan alumni universitas di UEA, yaitu Muhammad Mualfi Fahrul Fanani, B.A., Faiz Ilyas Mukhtar, B.Sc., Muhamad Paisal Akbar, B.A., dan Amirah Husein Ahmad, B.A. Saling berbagi pengalaman menempuh pendidikan di negeri Teluk tersebut. Menurut mereka, UEA bukan hanya dikenal lewat ikon-ikon modern seperti Dubai dan Burj Khalifa, tetapi juga melalui komitmennya dalam mengembangkan pendidikan, kebudayaan, dan inovasi global.
Para narasumber menjelaskan bahwa sejarah berdirinya Uni Emirat Arab dimulai pada 2 Desember 1971, ketika enam dinasti sepakat membentuk satu negara, yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Fujairah, Umm Al-Quwain, dan Ajman. Kemudian pada 10 Februari 1972, Ras Al-Khaimah bergabung sebagai emirat ketujuh. Abu Dhabi menjadi ibu kota negara, sementara Sharjah dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan.
Dalam sesi ini, mereka menggambarkan sistem pendidikan di UEA yang modern, tertib, dan multikultural, di mana berbagai bangsa hidup berdampingan dengan harmonis. Para narasumber juga memperkenalkan tradisi khas khushmak atau salam hidung yang melambangkan rasa hormat dan keakraban dalam budaya Arab. Mereka menambahkan bahwa pemisahan aktivitas pria dan wanita di UEA justru menciptakan rasa aman serta menjaga privasi perempuan.
Lihat Juga :