Mengenal Grisna Anggadwita, Dosen Telkom University Pejuang Inklusi Disabilitas
Kamis, 29 Januari 2026 - 17:49 WIB
loading...
A
A
A
“Mereka seperti terpenjara oleh pikiran sendiri. Mindset ini yang akhirnya menghambat pengembangan potensi,” katanya.
Pengalaman Grisna sebagai tenaga ahli di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2014 turut membekalinya dalam pengembangan solusi berbasis digital. Saat ini, bersama tim riset Telkom University, ia tengah mengembangkan aplikasi pembelajaran jarak jauh bagi penyandang disabilitas.
Aplikasi tersebut memuat materi praktis seperti pembukuan sederhana dan model usaha, yang dipadukan dengan pendekatan storytelling. Cerita-cerita sukses penyandang disabilitas digunakan untuk membangun motivasi dan kepercayaan diri.
“Storytelling itu menggugah. Dari riset kami, kelompok yang mendapat paparan cerita mengalami peningkatan motivasi,” ujarnya.
Selain itu, Grisna juga menginisiasi pengembangan inkubator usaha khusus disabilitas bekerja sama dengan Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas (LPPPD) di Yogyakarta. Program ini diharapkan mendapat dukungan hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Dukungan serupa juga datang dari Universitas Telkom, yang tengah membangun pusat disabilitas bagi mahasiswa. Hal ini membuat upaya Grisna semakin terlembaga dan berkelanjutan.
Sebagai penerima National Champion Scholarship Tanoto Foundation 2013, Grisna menilai dukungan beasiswa tersebut berperan besar dalam perjalanan akademiknya. Menurutnya, semangat inklusivitas dan kesetaraan juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ia pun mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pemberdayaan penyandang disabilitas, tidak melulu melalui bantuan finansial, tetapi juga pendampingan, pembinaan, dan pembukaan akses.
“Isu kesetaraan semakin menguat. Akan sangat baik jika semua pihak ikut berperan memberdayakan kaum minoritas,” katanya.
Pengalaman Grisna sebagai visiting researcher di Prancis dan pengamatannya di Swiss juga membuatnya menyadari bahwa fasilitas bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup peluang.
“Setiap berinteraksi dengan penyandang disabilitas, saya justru banyak belajar. Mereka berjuang luar biasa dengan keterbatasan yang ada,” pungkasnya.
Memotivasi Lewat Cerita dan Teknologi
Pengalaman Grisna sebagai tenaga ahli di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2014 turut membekalinya dalam pengembangan solusi berbasis digital. Saat ini, bersama tim riset Telkom University, ia tengah mengembangkan aplikasi pembelajaran jarak jauh bagi penyandang disabilitas.
Aplikasi tersebut memuat materi praktis seperti pembukuan sederhana dan model usaha, yang dipadukan dengan pendekatan storytelling. Cerita-cerita sukses penyandang disabilitas digunakan untuk membangun motivasi dan kepercayaan diri.
“Storytelling itu menggugah. Dari riset kami, kelompok yang mendapat paparan cerita mengalami peningkatan motivasi,” ujarnya.
Selain itu, Grisna juga menginisiasi pengembangan inkubator usaha khusus disabilitas bekerja sama dengan Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas (LPPPD) di Yogyakarta. Program ini diharapkan mendapat dukungan hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Dukungan serupa juga datang dari Universitas Telkom, yang tengah membangun pusat disabilitas bagi mahasiswa. Hal ini membuat upaya Grisna semakin terlembaga dan berkelanjutan.
Mengajak Semua Pihak Terlibat
Sebagai penerima National Champion Scholarship Tanoto Foundation 2013, Grisna menilai dukungan beasiswa tersebut berperan besar dalam perjalanan akademiknya. Menurutnya, semangat inklusivitas dan kesetaraan juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ia pun mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pemberdayaan penyandang disabilitas, tidak melulu melalui bantuan finansial, tetapi juga pendampingan, pembinaan, dan pembukaan akses.
“Isu kesetaraan semakin menguat. Akan sangat baik jika semua pihak ikut berperan memberdayakan kaum minoritas,” katanya.
Pengalaman Grisna sebagai visiting researcher di Prancis dan pengamatannya di Swiss juga membuatnya menyadari bahwa fasilitas bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup peluang.
“Setiap berinteraksi dengan penyandang disabilitas, saya justru banyak belajar. Mereka berjuang luar biasa dengan keterbatasan yang ada,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :