Dua Dekade Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Menenun Inklusi dan Jiwa Olahraga
Sabtu, 06 Juni 2026 - 20:01 WIB
loading...
A
A
A
Sobat CIHO hadir sebagai oase yang berfokus pada inklusivitas total, merangkul baik individu yang able (nondisabilitas) maupun disable (disabilitas). "Selama ini fokus industri dan akademis kita mayoritas hanya pada mereka yang able. Kami menawarkan keahlian di bidang psikologi olahraga yang secara khusus membentuk atlet adaptif," ungkap Andre penuh semangat.
Bagi Sobat CIHO, definisi 'atlet' mengalami perluasan makna yang mendalam. Atlet bukanlah sekadar mereka yang memakai jersi nasional di stadion megah. Atlet adalah setiap orang yang ingin selalu menjadi pribadi yang lebih baik dan adaptif untuk mencapai tujuan jangka panjang secara aktif. Siapa pun Anda, selama Anda memilih untuk bergerak dan memperbaiki diri, Anda adalah seorang atlet.
Andre mengingatkan sebuah realitas pahit yang kerap menimpa dunia olahraga prestasi di Indonesia. Banyak atlet yang setelah lepas dari masa sekolah atau puncak kariernya mengalami burn out, kejenuhan akut, depresi, hingga masalah finansial yang karut-marut karena kurangnya apresiasi. Akar masalahnya, selama ini mereka sering kali diperlakukan seperti robot pembuat medali, bukan sebagai manusia utuh yang berhak bahagia.
Di sinilah peran krusial psikologi olahraga melalui pendekatan LTAD (Long-Term Athlete Development). Melalui instrumen asesmen, mental training, dan fungsi konseling, psikologi olahraga hadir untuk menyelaraskan perilaku, perasaan, dan pikiran manusia dalam konteks gerak. Sasarannya pun dirombak secara radikal.
"Untuk atlet remaja, sebenarnya tujuannya bukan melulu soal mengejar medali emas atau juara, melainkan membentuk pribadi yang disiplin dan menanamkan kesadaran bahwa olahraga adalah gaya hidup. Kita membina remaja kita bukan sekadar bicara juara," tegas Andre. Sayangnya, banyak pelatih fisik yang kerap melewatkan aspek mental dan psikologis ini. Sinergi antara pelatih dan psikolog olahraga diharapkan mampu melahirkan atlet yang tidak hanya berprestasi di podium, tetapi juga bahagia menjalani hidupnya. Atlet bukan robot, mereka adalah manusia yang berhak bahagia. Di samping itu, melalui pendekatan ini, anak-anak juga dilatih sejak dini untuk tangguh menghadapi kekalahan.
Dua puluh tahun Fakultas Psikologi Universitas Pancasila berkiprah, perayaan kali ini adalah penegasan bahwa ilmu psikologi bukan sekadar teori yang bersemayam di menara gading. Melalui jalur ramah inklusi yang lapang dan pemikiran psikologi olahraga yang memanusiakan manusia, mereka sedang melangkah pasti menuju masa depan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membebaskan dan membahagiakan tiap-tiap jiwa yang bergerak di dalamnya.
Bagi Sobat CIHO, definisi 'atlet' mengalami perluasan makna yang mendalam. Atlet bukanlah sekadar mereka yang memakai jersi nasional di stadion megah. Atlet adalah setiap orang yang ingin selalu menjadi pribadi yang lebih baik dan adaptif untuk mencapai tujuan jangka panjang secara aktif. Siapa pun Anda, selama Anda memilih untuk bergerak dan memperbaiki diri, Anda adalah seorang atlet.
Andre mengingatkan sebuah realitas pahit yang kerap menimpa dunia olahraga prestasi di Indonesia. Banyak atlet yang setelah lepas dari masa sekolah atau puncak kariernya mengalami burn out, kejenuhan akut, depresi, hingga masalah finansial yang karut-marut karena kurangnya apresiasi. Akar masalahnya, selama ini mereka sering kali diperlakukan seperti robot pembuat medali, bukan sebagai manusia utuh yang berhak bahagia.
Di sinilah peran krusial psikologi olahraga melalui pendekatan LTAD (Long-Term Athlete Development). Melalui instrumen asesmen, mental training, dan fungsi konseling, psikologi olahraga hadir untuk menyelaraskan perilaku, perasaan, dan pikiran manusia dalam konteks gerak. Sasarannya pun dirombak secara radikal.
"Untuk atlet remaja, sebenarnya tujuannya bukan melulu soal mengejar medali emas atau juara, melainkan membentuk pribadi yang disiplin dan menanamkan kesadaran bahwa olahraga adalah gaya hidup. Kita membina remaja kita bukan sekadar bicara juara," tegas Andre. Sayangnya, banyak pelatih fisik yang kerap melewatkan aspek mental dan psikologis ini. Sinergi antara pelatih dan psikolog olahraga diharapkan mampu melahirkan atlet yang tidak hanya berprestasi di podium, tetapi juga bahagia menjalani hidupnya. Atlet bukan robot, mereka adalah manusia yang berhak bahagia. Di samping itu, melalui pendekatan ini, anak-anak juga dilatih sejak dini untuk tangguh menghadapi kekalahan.
Dua puluh tahun Fakultas Psikologi Universitas Pancasila berkiprah, perayaan kali ini adalah penegasan bahwa ilmu psikologi bukan sekadar teori yang bersemayam di menara gading. Melalui jalur ramah inklusi yang lapang dan pemikiran psikologi olahraga yang memanusiakan manusia, mereka sedang melangkah pasti menuju masa depan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membebaskan dan membahagiakan tiap-tiap jiwa yang bergerak di dalamnya.
(unt)
Lihat Juga :