UNJ Berkolaborasi dengan DMI Perkuat Gerakan Air Bersih untuk Jakarta
Selasa, 16 Juni 2026 - 16:30 WIB
loading...
A
A
A
Dalam implementasinya, UNJ berperan sebagai mitra akademik yang melakukan riset, pendampingan teknis, pelatihan masyarakat, serta pemantauan kualitas air guna memastikan keberlanjutan program.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNJ, Rafiuddin Syam, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan terjangkau.
“Melalui teknologi filtrasi modern, air dapat diolah menjadi air siap minum yang memenuhi standar kesehatan. Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga mudah direplikasi dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Rafiuddin Syam yang juga dosen Fakultas Teknik UNJ.
Sistem yang dipasang di Masjid Ash Shalihin menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) berkapasitas 4.000 GPD atau sekitar 15.000 liter per hari, yang didukung tiga tangki Fiber Reinforced Plastic (FRP) antikarat.
Teknologi ini mampu menyaring hingga 99 persen kontaminan dan menghasilkan air dengan kadar Total Dissolved Solids (TDS) di bawah 100 mg/L, jauh di bawah ambang batas maksimal yang direkomendasikan untuk air minum.
Dengan kapasitas tersebut, satu unit instalasi mampu melayani kebutuhan air minum sekitar 2.000 orang setiap hari. Apabila model ini diterapkan pada seluruh 615 masjid di Jakarta Utara, manfaatnya berpotensi menjangkau lebih dari 1,23 juta warga atau sekitar 68 persen dari total populasi wilayah tersebut.
“Gerakan Air Bersih untuk Jakarta kita mulai dari masjid. Ke depan, kami berharap program ini dapat diperluas ke ratusan masjid lainnya dan menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota yang ramah air bersih,” tegas Rafiuddin.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNJ, Rafiuddin Syam, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan terjangkau.
“Melalui teknologi filtrasi modern, air dapat diolah menjadi air siap minum yang memenuhi standar kesehatan. Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga mudah direplikasi dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Rafiuddin Syam yang juga dosen Fakultas Teknik UNJ.
Sistem yang dipasang di Masjid Ash Shalihin menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) berkapasitas 4.000 GPD atau sekitar 15.000 liter per hari, yang didukung tiga tangki Fiber Reinforced Plastic (FRP) antikarat.
Teknologi ini mampu menyaring hingga 99 persen kontaminan dan menghasilkan air dengan kadar Total Dissolved Solids (TDS) di bawah 100 mg/L, jauh di bawah ambang batas maksimal yang direkomendasikan untuk air minum.
Dengan kapasitas tersebut, satu unit instalasi mampu melayani kebutuhan air minum sekitar 2.000 orang setiap hari. Apabila model ini diterapkan pada seluruh 615 masjid di Jakarta Utara, manfaatnya berpotensi menjangkau lebih dari 1,23 juta warga atau sekitar 68 persen dari total populasi wilayah tersebut.
“Gerakan Air Bersih untuk Jakarta kita mulai dari masjid. Ke depan, kami berharap program ini dapat diperluas ke ratusan masjid lainnya dan menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota yang ramah air bersih,” tegas Rafiuddin.
Lihat Juga :