Ornamen Header
UP Siap Bekali 1.405 Maba dengan Pengetahuan dan Kemampuan Handal
UP Siap Bekali 1.405 Maba dengan Pengetahuan dan Kemampuan Handal
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Akhmaloka pada acara Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina, Rabu (23/9). Foto/ist
JAKARTA - Rektor Universitas Pertamina, Prof. Akhmaloka menyatakan, lembaganya telah mempersiapkan mahasiswanya dengan pengetahuan dan kemampuan yang relevan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau industri saat ini. Harapannya, lulusan Universitas Pertamina (UP) akan lebih mudah mendapat pekerjaan dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri.

"Untuk dapat bertahan di tengah persaingan kerja di masa depan, mahasiswa dituntut untuk bertransformasi menjadi pribadi yang agile. Artinya, mereka harus menjadi pribadi yang punya visi jelas, namun fleksibel, lincah, dan mampu beradaptasi dengan cepat,"kata Prof. Akhmaloka saat memberikan sambutan pada acara Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Pertamina Tahun Akademik 2020/2021, Rabu (23/9/2020). (Baca juga: Menko PMK Wejang Maba UMM, Ini 5 Kunci Menjadi Pemimpin Besar)

Selain itu, lanjutnya, menjadi lifelong learner (belajar sepanjang hayat) adalah suatu keharusan. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher-order Thinking Skills (HOTS), seperti memiliki kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang baik, memiliki keterampilan berkomunikasi dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi.

Kurikulum di Universitas Pertamina telah didesain dan disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan di masa depan, termasuk dalam kaitannya dengan mengembangkan kemampuan HOTS tersebut.



Melalui mata kuliah wajib seperti Critical Thinking dan Creative Problem Solving, Universitas Pertamina berkomitmen untuk mencipakan SDM yang tidak hanya menguasai keilmuan, namun juga memiliki karakter profesional yang siap bersaing di dunia kerja. (Baca juga: Mahasiswa ITS Asal Kebumen Ciptakan Aplikasi Tukar Sampah NUKERTRASH)

“Proses pembelajaran tidak hanya dilakukan di level mengingat, memahami, dan mengaplikasikan yang merupakan kemampuan berpikir tingkat rendah. Namun, kita akan membiasakan proses belajar mengajar di level analisis, evaluasi, dan mencipta yang dikategorikan sebagai berpikir tingkat tinggi,” tutupnya.

Dunia kini tidak hanya dihadapkan pada kondisi volatilily, uncertainty, complexity, dan ambiguity atau yang kemudian dikenal dengan VUCA. Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung membuat ketidakpastian semakin meningkat. Industri terdisrupsi semakin cepat membuat persaingan kerja tidak lagi linear. Dalam enam bulan terakhir misalnya, muncul fenomena baru di mana seluruh elemen masyarakat berusaha keras menguasai teknologi daring.



McKinsey Global Institute dalam laporannya yang diterbitkan pada Desember 2017 memperkirakan bahwa akan ada 400-800 juta orang di dunia yang akan kehilangan pekerjaan digantikan oleh otomasi (automation) hingga tahun 2030 mendatang. Hal ini membuat persaingan tenaga kerja akan semakin ketat, karena tenaga kerja manusia tidak lagi bersaing dengan sesama tenaga kerja manusia, namun juga dengan teknologi otomasi. (Baca juga: IPB University Luncurkan Sistem Monitoring Lahan Digital)
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!