BPIP Gandeng Komunitas Adat Sumba untuk Wujudkan Pembudayaan Pancasila
Selasa, 24 November 2020 - 01:17 WIB
loading...
A
A
A
“Tim BPIP yang terdiri dari berbagai ragam latar belakang ini akan membaca itu, kemudian akan dijadikan bahan perumusan pembudayaan pancasila secara komprehensif,” kata Irene usai mengunjungi kampung adat di Sumba, NTT, Minggu (22/11). (Baca juga: Megawati Beri Konsep Gotong Royong Berskala Dunia di China )
Menurutnya, kepercayaan lokal Marapuh ini cerdas karena mengikat komunitasnya dengan regulasi atau sitem untuk pelestarian. Artinya, ketika salah satu panganut kepercayaan lokal ini melahirkan anak, secara otomatis terikat warisan tanah dan adat. Bertolak belakang dengan kepercayaan agama lain, dimana kelahiran anak tidak melahirkan warisan sebagaimana kepercayaan Marapuh.
Irene juga menyoroti soal pendidikan masyarakat penganut kepercayaan marapuh. Menurutnya, ajaran kepercayaan Marapuh bukan formalisme di sekolah, tapi pengajaran terus menerus dan bertahap. Hal tersebut merupakan cara internalisasi mereka dalam mendidik dan mewarisi budaya adatnya kepada anak-anaknya.
Menyangkut interaksi, menurutnya, pemberdayaan masyarakat seperti upacara, ritual, merupakan ruang interaksi sebenarnya. “Kenapa kita ada upacara macam-macama? Di negara-negara liberal itu sudah kurang sekali. Bedanya dengan kita, terlahir dari tradisi ritual. Itu ruang interaksi dan pemberdayaan. Memberikan suatu penghormatan ketika ikut,” terangnya.
Budayawan Ngatawi Al Zastrouw menilai, banyak komunitas adat yang berkembang di Sumba, NTT, secara nyata justru mengamalkan dan menjalankan pembudayaan pancasila. BPIP, lanjut dia, sebagai lembaga negara yang memiliki peran untuk menanamkan, menyebarkan, dan membudayakan Pancasila, ingin menjadikan pancasila sebagai budaya bangsa Indonesia yang terus tertanam.
Guna mewujudkan itu, ada beberapa sekenario yang harus dilakukan. Pertama, BPIP harus mendengar dan melihat. Artinya, BPIP mendatangi komunitas-komunitas yang ada di daerah yang secara konsisten sudah mengamalkan budaya pancasila. Sekalipun, mereka tidak merasa bahwa apa yang sudah dilakukan sesuai dengan pancasila.
Jika ingin kembali mengamalkan ajaran Bungkarno, maka pancasila itu harus digali dari tradisi nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang tumbuh di daerah. Dengan bahasa lain, sumber mata air dari pancasila itu adalah local wisdom dan teradisi-tradisi yang ada di nusantara ini.
Menurutnya, kepercayaan lokal Marapuh ini cerdas karena mengikat komunitasnya dengan regulasi atau sitem untuk pelestarian. Artinya, ketika salah satu panganut kepercayaan lokal ini melahirkan anak, secara otomatis terikat warisan tanah dan adat. Bertolak belakang dengan kepercayaan agama lain, dimana kelahiran anak tidak melahirkan warisan sebagaimana kepercayaan Marapuh.
Irene juga menyoroti soal pendidikan masyarakat penganut kepercayaan marapuh. Menurutnya, ajaran kepercayaan Marapuh bukan formalisme di sekolah, tapi pengajaran terus menerus dan bertahap. Hal tersebut merupakan cara internalisasi mereka dalam mendidik dan mewarisi budaya adatnya kepada anak-anaknya.
Menyangkut interaksi, menurutnya, pemberdayaan masyarakat seperti upacara, ritual, merupakan ruang interaksi sebenarnya. “Kenapa kita ada upacara macam-macama? Di negara-negara liberal itu sudah kurang sekali. Bedanya dengan kita, terlahir dari tradisi ritual. Itu ruang interaksi dan pemberdayaan. Memberikan suatu penghormatan ketika ikut,” terangnya.
Budayawan Ngatawi Al Zastrouw menilai, banyak komunitas adat yang berkembang di Sumba, NTT, secara nyata justru mengamalkan dan menjalankan pembudayaan pancasila. BPIP, lanjut dia, sebagai lembaga negara yang memiliki peran untuk menanamkan, menyebarkan, dan membudayakan Pancasila, ingin menjadikan pancasila sebagai budaya bangsa Indonesia yang terus tertanam.
Guna mewujudkan itu, ada beberapa sekenario yang harus dilakukan. Pertama, BPIP harus mendengar dan melihat. Artinya, BPIP mendatangi komunitas-komunitas yang ada di daerah yang secara konsisten sudah mengamalkan budaya pancasila. Sekalipun, mereka tidak merasa bahwa apa yang sudah dilakukan sesuai dengan pancasila.
Jika ingin kembali mengamalkan ajaran Bungkarno, maka pancasila itu harus digali dari tradisi nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang tumbuh di daerah. Dengan bahasa lain, sumber mata air dari pancasila itu adalah local wisdom dan teradisi-tradisi yang ada di nusantara ini.
Lihat Juga :