Kisah Zainul Muttaqin, Guru Tunanetra yang Berjuang dari Ruang Gelap Kehidupan
Selasa, 06 April 2021 - 18:09 WIB
loading...
A
A
A
"Murid-murid saya kebanyakan dari keluarga pra sejahtera atau tidak mampu, dan umumnya kalangan tunanetra seperti itu. Ditambah yang menyandang tunanetra bukan hanya satu dua orang, ada yang hampir satu keluarga menyandang tunanetra semuanya. Ini keadaan yang harus saya hadapi, tidak bisa saya meminta lebih dari mereka. Semisal pembelajaran jarak jauh seperti sekarang ini, satu rumah hanya ada satu telepon seluler, sehingga saya harus maklum dengan kondisi murid-murid saya," cerita Zainul.
Persoalan lain yang memicu keprihatinannya adalah pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille yang belum tuntas. Masih banyak penyandang tunanetra yang belum mampu membaca Al-Qur’an Braille. "Angka yang saya dapat dari sebuah penelitian, tunanetra muslim di Indonesia ini tidak lebih dari 5% yang mampu membaca Al-Qur’an Braille. Darurat buta huruf Al-Qur’an Braille istilahnya, dan ini harus menjadi keprihatinan kita bersama," ungkapnya.
Zainul berharap pemerintah khususnya Kementerian Agama, dapat lebih memberikan perhatian terhadap pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille, karena institusi pemerintah dengan jaringannyalah yang mampu mengoptimalkan sumber daya untuk pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille.
"Saya berterima kasih kepada Kementerian Agama yang sudah banyak mengangkat CPNS Guru PAI untuk SLB. Saya juga pernah mengikuti kegiatan Lajnah Pentashih Alquran dalam rangka Penyusunan Modul Penulisan Al-Qur’an Braille. Lebih dari itu, saya berharap Kementerian Agama dapat mengambil peran dalam pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille. Pemerintah dengan segala jaringannyalah yang mampu menggerakkan segala sumber daya demi pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille ini," tukas Zainul.
Bertugas mengajar peserta didik berkebutuhan khusus, dimana dirinya juga tergolong orang berkebutuhan khusus, tidak menyurutkan langkah Zainul untuk mengabdi sepenuh hati. Langkahnya mantap untuk selalu merajut asa di tengah ruang gelap yang menjadi takdir kehidupannya.
"Pegangan saya dua, pertama saya yakin bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan kita. Kedua, saya yakin bahwa Allah memberikan segala kemampuan kepada kita untuk menghadapi masalah, jadi satu paket. Selama saya bertawakal, insya Allah akan selalu ada jalan untuk memecahkan masalah yang terjadi," tutupnya.
Persoalan lain yang memicu keprihatinannya adalah pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille yang belum tuntas. Masih banyak penyandang tunanetra yang belum mampu membaca Al-Qur’an Braille. "Angka yang saya dapat dari sebuah penelitian, tunanetra muslim di Indonesia ini tidak lebih dari 5% yang mampu membaca Al-Qur’an Braille. Darurat buta huruf Al-Qur’an Braille istilahnya, dan ini harus menjadi keprihatinan kita bersama," ungkapnya.
Zainul berharap pemerintah khususnya Kementerian Agama, dapat lebih memberikan perhatian terhadap pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille, karena institusi pemerintah dengan jaringannyalah yang mampu mengoptimalkan sumber daya untuk pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille.
"Saya berterima kasih kepada Kementerian Agama yang sudah banyak mengangkat CPNS Guru PAI untuk SLB. Saya juga pernah mengikuti kegiatan Lajnah Pentashih Alquran dalam rangka Penyusunan Modul Penulisan Al-Qur’an Braille. Lebih dari itu, saya berharap Kementerian Agama dapat mengambil peran dalam pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille. Pemerintah dengan segala jaringannyalah yang mampu menggerakkan segala sumber daya demi pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille ini," tukas Zainul.
Bertugas mengajar peserta didik berkebutuhan khusus, dimana dirinya juga tergolong orang berkebutuhan khusus, tidak menyurutkan langkah Zainul untuk mengabdi sepenuh hati. Langkahnya mantap untuk selalu merajut asa di tengah ruang gelap yang menjadi takdir kehidupannya.
"Pegangan saya dua, pertama saya yakin bahwa Allah tidak membebani di luar kesanggupan kita. Kedua, saya yakin bahwa Allah memberikan segala kemampuan kepada kita untuk menghadapi masalah, jadi satu paket. Selama saya bertawakal, insya Allah akan selalu ada jalan untuk memecahkan masalah yang terjadi," tutupnya.
(mpw)
Lihat Juga :