Kisah Zainul Muttaqin, Guru Tunanetra yang Berjuang dari Ruang Gelap Kehidupan
Selasa, 06 April 2021 - 18:09 WIB
loading...
A
A
A
Di sela-sela aktivitasnya sebagai pemateri, Zainul berkenan berbagi kisah dengan kami (penulis) tentang suka dukanya selama menjadi Guru PAI. Lulus dari Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada 1997, cita-citanya untuk menjadi guru agama tidak begitu saja ia dapatkan dengan mudah.
Zainul sempat bekerja di perusahaan ekspedisi PT JNE yang berlokasi di Jakarta. Pekerjaan tersebut ia lakoni selama 4 tahun sebelum akhirnya lolos seleksi CPNS Tahun 2002 Kementerian Agama melalui formasi Guru PAI.
Baginya, yang paling berkesan selama bertugas sebagai Guru PAI adalah ketika mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada peserta didik tunanetra hingga mereka mampu membacanya dengan baik dan benar serta mengamalkan isi kandungannya.
"Yang paling berkesan bagi saya pertama adalah mengajarkan Al-Qur’an Braille kepada para murid dan kedua mengajarkan nilai-nilai akhlak, sehingga pada akhirnya murid-murid saya mampu membaca Alquran dengan baik dan benar serta bersungguh-sungguh mengamalkan akhlak yang baik. Bagi saya ini merupakan kepuasan batin yang amat luar biasa," ujarnya seperti dilansir dari laman resmi Kemenag, Selasa (6/4/2021).
Zainulpun merasa bangga bahwa di antara murid-muridnya ada yang memiliki hafalan lebih dari 1 juz. Menurutnya, hal ini merupakan tren positif yang sedang menggejala di kalangan peserta didik tunanetra.
"Anak-anak itu banyak yang ingin menjadi hafiz, dan ini buat saya suatu perkembangan yang menggembirakan. Murid saya setidaknya ada dua orang yang sudah memiliki hafalan lebih dari 1 juz. Jadi, di samping mereka belajar membaca sesuai kaidah ilmu tajwid, mereka juga berusaha untuk menghafalkannya," terangnya.
Namun demikian, seringkali kenyataan hidup tak selamanya ditaburi sesuatu yang menyenangkan. Raut wajah Zainul berubah getir, nafasnya menghela berat saat menceritakan kondisi keluarga murid-muridnya.
Zainul sempat bekerja di perusahaan ekspedisi PT JNE yang berlokasi di Jakarta. Pekerjaan tersebut ia lakoni selama 4 tahun sebelum akhirnya lolos seleksi CPNS Tahun 2002 Kementerian Agama melalui formasi Guru PAI.
Baginya, yang paling berkesan selama bertugas sebagai Guru PAI adalah ketika mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada peserta didik tunanetra hingga mereka mampu membacanya dengan baik dan benar serta mengamalkan isi kandungannya.
"Yang paling berkesan bagi saya pertama adalah mengajarkan Al-Qur’an Braille kepada para murid dan kedua mengajarkan nilai-nilai akhlak, sehingga pada akhirnya murid-murid saya mampu membaca Alquran dengan baik dan benar serta bersungguh-sungguh mengamalkan akhlak yang baik. Bagi saya ini merupakan kepuasan batin yang amat luar biasa," ujarnya seperti dilansir dari laman resmi Kemenag, Selasa (6/4/2021).
Zainulpun merasa bangga bahwa di antara murid-muridnya ada yang memiliki hafalan lebih dari 1 juz. Menurutnya, hal ini merupakan tren positif yang sedang menggejala di kalangan peserta didik tunanetra.
"Anak-anak itu banyak yang ingin menjadi hafiz, dan ini buat saya suatu perkembangan yang menggembirakan. Murid saya setidaknya ada dua orang yang sudah memiliki hafalan lebih dari 1 juz. Jadi, di samping mereka belajar membaca sesuai kaidah ilmu tajwid, mereka juga berusaha untuk menghafalkannya," terangnya.
Namun demikian, seringkali kenyataan hidup tak selamanya ditaburi sesuatu yang menyenangkan. Raut wajah Zainul berubah getir, nafasnya menghela berat saat menceritakan kondisi keluarga murid-muridnya.
Lihat Juga :