Tekan Penularan Covid ke Siswa, MGBK-UP Dukung Vaksinasi Anak
Senin, 26 Juli 2021 - 18:20 WIB
loading...
Seminar daring Universitas Pertamina (UP) bekerja sama dengan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling se-Indonesia (MGBK) bertajuk ‘Vaksin Sebelum (ke) Sekolah’. Foto/Dok/Humas UP
A
A
A
JAKARTA - Dalam laporan yang dirilis Kementerian Kesehatan , terjadi peningkatan kasus Covid-19 pada anak kelompok usia 0 hingga 18 tahun di Indonesia. Terutama, sejak munculnya varian Delta. Setidaknya, satu dari delapan orang yang tertular berasal dari kelompok usia ini, dan sebanyak 3-5 persen di antaranya meninggal dunia. Proporsi kasus aktif covid-19 pada anak rentang usia 6 hingga 18 tahun mencapai 10,4 persen. Sementara pada rentang usia 0-5 tahun mencapai 3,1 persen.
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. dr. Cissy B Kartasasmita dr, MCS, PhD, SpA (K), mengatakan bahwa untuk menekan angka paparan covid-19 pada anak, orang tua harus melatih anak melaksanakan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dan melakukan vaksinasi. Pemberian vaksinasi pada anak dianggap penting karena pada rentang usia ini, mereka berpotensi mengalami long covid atau dampak jangka panjang hingga lebih dari 120 hari.
Baca juga: LPDP Buka Beasiswa Magang dan Studi Bersertifikat untuk Pendidikan Vokasi, Tertarik?
“Terutama pada mereka dengan riwayat sakit tertentu, lebih berpotensi mengalami gejala berat hingga menyebabkan kematian. Vaksinasi pada anak adalah salah satu solusi untuk menghambat penularan serta meningkatkan kekebalan tubuh pada anak,” kata Prof. dr. Cissy dalam seminar daring yang dilaksanakan oleh Universitas Pertamina (UP) bekerja sama dengan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling se-Indonesia (MGBK) bertajuk ‘Vaksin Sebelum (ke) Sekolah’, Minggu (26/7).
Menurutnya, saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 pada anak. Beberapa negara yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 pada anak di antaranya Amerika Serikat, Uni Eropa, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Singapura. Sementara India akan mulai menyuntikkan vaksinasi pada anak usia 12 hingga 18 tahun mulai Agustus 2021 mendatang.
Pemberian vaksinasi pada anak juga akan menumbuhkan perasaan aman dan percaya diri untuk mempersiapkan siswa memulai sekolah tatap muka. Hasil survey yang dilakukan UNICEF tahun 2020 menyebutkan sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa di 34 provinsi dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia, mengaku tidak nyaman belajar dirumah selama pandemi.
Baca juga: Universitas Esa Unggul Jadi Sentra Vaksinasi untuk Mahasiswa
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. dr. Cissy B Kartasasmita dr, MCS, PhD, SpA (K), mengatakan bahwa untuk menekan angka paparan covid-19 pada anak, orang tua harus melatih anak melaksanakan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dan melakukan vaksinasi. Pemberian vaksinasi pada anak dianggap penting karena pada rentang usia ini, mereka berpotensi mengalami long covid atau dampak jangka panjang hingga lebih dari 120 hari.
Baca juga: LPDP Buka Beasiswa Magang dan Studi Bersertifikat untuk Pendidikan Vokasi, Tertarik?
“Terutama pada mereka dengan riwayat sakit tertentu, lebih berpotensi mengalami gejala berat hingga menyebabkan kematian. Vaksinasi pada anak adalah salah satu solusi untuk menghambat penularan serta meningkatkan kekebalan tubuh pada anak,” kata Prof. dr. Cissy dalam seminar daring yang dilaksanakan oleh Universitas Pertamina (UP) bekerja sama dengan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling se-Indonesia (MGBK) bertajuk ‘Vaksin Sebelum (ke) Sekolah’, Minggu (26/7).
Menurutnya, saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 pada anak. Beberapa negara yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 pada anak di antaranya Amerika Serikat, Uni Eropa, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Singapura. Sementara India akan mulai menyuntikkan vaksinasi pada anak usia 12 hingga 18 tahun mulai Agustus 2021 mendatang.
Pemberian vaksinasi pada anak juga akan menumbuhkan perasaan aman dan percaya diri untuk mempersiapkan siswa memulai sekolah tatap muka. Hasil survey yang dilakukan UNICEF tahun 2020 menyebutkan sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa di 34 provinsi dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia, mengaku tidak nyaman belajar dirumah selama pandemi.
Baca juga: Universitas Esa Unggul Jadi Sentra Vaksinasi untuk Mahasiswa
Lihat Juga :