Kisah Pahlawan: Syarif Hidayat, Mengajar Madrasah Berbekal Dua Liter Beras

Kamis, 04 November 2021 - 05:20 WIB
loading...
A A A
Untuk memudahkan pendidikan di madrasah, ia berinisiatif untuk menggunakan beras sebagai metode pembayaran. “Untuk mempermudah warga. Dulu 1 liter per bulan, sekarang naik 2 liter. Tapi itu pun tidak tiap bulan,” ungkapnya.

Syarif Hidayat pernah memakai uang untuk alat tukar untuk biaya pendidikan madrasah, namun macet. Jarang orang tua murid mampu membayar biaya madrasah. Hal ini tentu membuatnya berpikir lebih keras, apalagi terkait dengan penghasilan – meskipun untuk hal ni para guru tidak pernah mengeluh. Jika beras sudah terkumpul akan dibagi rata kepada enam guru yang mengajar di madrasah.

“Itu kalau ada, kebanyakan tidak ada. Tiga sampai empat bulan baru ada,” tambahnya. Syarif Hidayat mengisahkan bahwa perolehan beras ini tidak lancar tiap bulan. Apalagi jika musim paceklik melanda. Yang tidak membayar pun banyak. “Yang penting anak bisa sekolah. Bisa belajar agama,” tambahnya.

Sementara itu untuk mencukupi kebutuhan bulanan madrasah seperti kaur, listrik dan lain sebagainya, ia biasa menggunakan dana pribadi. Tak jarang juga urunan sesama guru, bahkan menurut Ustadz Ismail, tak jarang ia mengajak murid untuk patungan membeli kapur, seribu rupiah tiap murid. Selebihnya, sistem ini mampu membuat madrasah menjadi dinamis, tidak terpaku pada uang-uang bulanan.

Hal berbeda ketika musim panen tiba. Para orang tua murid biasanya akan datang ke madrasah dengan membawa beras, bersamaan dengan digelarnya samenan (kenaikan kelas) yang dilakukan setahun sekali. Di acara semanen ini pula akan digelar ngaleseng (pidato) adri murid dan jamuan bersama hasil dari beras yang dikumpulkan. Tapi sebagaimana hukum pasar, semakin banyak sebuah barang semakin turun harga barang tersebut. Semakin banyak beras yang terkumpul, maka harganya pun kian turun. Itu terjadi tiap tahun.

“Kalau dihitung misalnya, setahun dapat 2.400 liter beras, kalau diuangkan biasanya di sekitar 10 jutaan/tahun. Lalu, ya dibagi rata. Kalau dihitung kurang dari 2 juta/tahun untuk seorang guru. Perbulan tiap guru dapat bisyaroh 200 ribu-an,” papar Ustadz Ismail, lulusan angkatan pertama madrasah Miftahul Aulad.

Ia menambahkan, seperti yang sering diajarkan Kiai Syarif, madrasah bukanlah tempat mencari keuntungan pribadi tapi mengabdi. “Orang pertama yang mengajarkan saya agama ya Pak Syarif. Ngajarin kitab. Ia tokoh ulama yang mengajarkan agama di Kampung Cilulumpang. Dan kampung ini dianggap agamanya bagus dibanding dengan lain karena beliau,” tambahnya.

Sebagaimana lazimnya manusia pada umumnya, terkadang Syarif Hidayat juga terkendala urusan keuangan. Ia memiliki tiga anak: Abdullah Alawi (32 tahun), Sopyan (28), dan Geugeu Awliyah (22). Ketiga anaknya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan ia sendiri hanya lulus SD dan bekerja sebagai petani biasa. “Paling tidak ya harus mengeluarkan biaya 3 juta per bulan,” katanya.

Penghasilannya tiap tahun sebagai petani rata-rata hanya mampu panen tidak kurang 15 kuintal per tahun. Dari madrasah tentu tidak besar. Sama dengan guru-guru lain. “Kadang-kadang ada undangan ceramah di hajatan. Tapi ada saja. Pokoknya mah, min haisu la yahtasib,” selorohnya, tertawa.

Teringat Wasiat Kiai
Ketika suasana hatinya sedang gundah dan tantangan sekamin berat, ia selalu teringat sosok Ajengan Mahmud Mudrika Hanafi, pemimpin Pesantren Siqoyatur Rahmah, Sukabumi, tempat ia nyantri berpuluh-puluh tahun lalu. “Kalau kamu mukim di tengah masyarakat banyak gangguannya, lanjutkan. Kalau tidak ada gangguan, jangan diteruskan,” ujar Syarif mengingat sosok gurunya tersebut. Kepalanya menerawang dan kelimatnya sedikit terbata-bata kala melafalkan kalimat tersebut. Menurutnya, kalimat tersebut adalah sebuah wasiat dan hingga kini ia pegang teguh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PMB Madrasah Jakarta...
PMB Madrasah Jakarta Jalur Tahfiz 2026 Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Insentif Guru PAI Tahap...
Insentif Guru PAI Tahap II 2026 Cair, Berikut Besaran dan Jumlah Penerimanya
Menag: Insentif Guru...
Menag: Insentif Guru Madrasah Non-ASN Akan Cair Akhir Juni 2026
Kemenag Buka Beasiswa...
Kemenag Buka Beasiswa INSIGHT Scholarship bagi Mahasiswa Internasional yang Ingin Kuliah di PTKIN
Kemenag Gandeng Mitra...
Kemenag Gandeng Mitra Strategis untuk Tingkatkan Kesiapan Kerja Mahasiswa PTKI
IPB University dan Pesantren...
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Rekomendasi
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Diresmikan Pramono dan...
Diresmikan Pramono dan Dudy, Stasiun JIS Resmi Beroperasi
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Atur Jabatan Sipil, Usia Pensiun, hingga Rekrutmen Disabilitas
Berita Terkini
BAZNAS DKI Jakarta Buka...
BAZNAS DKI Jakarta Buka Lowongan Kerja, Ini Syarat dan Posisi yang Dibuka
Hadapi Perubahan Dunia...
Hadapi Perubahan Dunia Kerja, Generasi Muda Perlu Dibekali Soft Skills Sejak Dini
Diumumkan Mulai Besok,...
Diumumkan Mulai Besok, Ini Link Pengumuman Hasil SMUP Unpad 2026
SPMB Jakarta 2026 untuk...
SPMB Jakarta 2026 untuk Sekolah Swasta SMP-SMA Tahap 2 Dibuka, Cek Cara Pilih Sekolah
Beasiswa GrabScholar...
Beasiswa GrabScholar 2026 untuk SD, SMP, SMA hingga S1 Dibuka, Cek Syarat Dokumen
Ashanty Raih Gelar Doktor,...
Ashanty Raih Gelar Doktor, Wisuda Bersama Anang dan Azriel Hermansyah di Unair
Infografis
Kisah Jenderal Hoegeng...
Kisah Jenderal Hoegeng Menyamar Jadi Hippies, Turun Langsung Bongkar Narkoba
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved