Mahasiswa UPER Raih Penghargaan Kompetisi The 46th IPA Convention and Exhibition 2022
Rabu, 12 Oktober 2022 - 09:10 WIB
loading...
A
A
A
Penelitiannya diganjar penghargaan Best Oral Presentation pada kompetisi The 46th IPA Convention and Exhibition kategori Student Paper 2022.
Baca juga: Bertandang ke MIT, Delegasi UI Bahas Riset Bidang Energi
“Penelitian ini saya lakukan dengan mengambil data di Blok Mahakam. Saat ini kondisi di Blok Mahakam terdapat sumur-sumur migas yang usianya sudah cukup tua, jadi mau tidak mau produksi minyak akan berada di reservoir yang kedalamannya semakin dangkal. Tantangan jika berproduksi di reservoir yang dangkal, khawatir yang akan didapatkan bukan migas, tetapi pasir,” jelas Fransisca dalam keterangan pers, Rabu (11/10/2022).
Untuk menghindarinya, Fransisca menawarkan metode kontrol pasir untuk menahan agar pasir tidak ikut terambil selama proses eksploitasi. “Cara kerjanya dengan menggunakan water-based resin. Resin ini berfungsi seperti lem yang dapat mengikat serta menahan pasir dan batuan di dasar sumur,” tutur Fransisca.
Inovasi resin berbasis air yang ditawarkan Fransisca sekaligus menjadi solusi untuk melakukan eksploitasi migas dengan biaya yang lebih terjangkau.
Dalam papernya yang berjudul “Evaluation of Tight Injectivity For Sand Consolidation Treatment: A Study Case in Mahakam” disebutkan, setidaknya inovasi produksi dengan metode water-based resin dapat menekan biaya hingga 20 persen lebih rendah dibandingkan metode konvensional (solvent-based resin).
Baca juga: Bertandang ke MIT, Delegasi UI Bahas Riset Bidang Energi
“Penelitian ini saya lakukan dengan mengambil data di Blok Mahakam. Saat ini kondisi di Blok Mahakam terdapat sumur-sumur migas yang usianya sudah cukup tua, jadi mau tidak mau produksi minyak akan berada di reservoir yang kedalamannya semakin dangkal. Tantangan jika berproduksi di reservoir yang dangkal, khawatir yang akan didapatkan bukan migas, tetapi pasir,” jelas Fransisca dalam keterangan pers, Rabu (11/10/2022).
Untuk menghindarinya, Fransisca menawarkan metode kontrol pasir untuk menahan agar pasir tidak ikut terambil selama proses eksploitasi. “Cara kerjanya dengan menggunakan water-based resin. Resin ini berfungsi seperti lem yang dapat mengikat serta menahan pasir dan batuan di dasar sumur,” tutur Fransisca.
Inovasi resin berbasis air yang ditawarkan Fransisca sekaligus menjadi solusi untuk melakukan eksploitasi migas dengan biaya yang lebih terjangkau.
Dalam papernya yang berjudul “Evaluation of Tight Injectivity For Sand Consolidation Treatment: A Study Case in Mahakam” disebutkan, setidaknya inovasi produksi dengan metode water-based resin dapat menekan biaya hingga 20 persen lebih rendah dibandingkan metode konvensional (solvent-based resin).
Lihat Juga :