Kemendikbud Harus Memberikan Pedoman Materi yang Diutamakan dalam PJJ
Jum'at, 31 Juli 2020 - 12:52 WIB
loading...
Pengamat Pendidikan Doni Koesoema mengatakan tidak semua materi dapat diajarkan di masa pagebluk COVID-19. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Para guru, siswa-siswi, dan orang tua, tergagap menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus memberikan pedoman mengenai materi yang diutamakan untuk dipelajari siswa-siswi.
Pengamat Pendidikan Doni Koesoema mengatakan tidak semua materi dapat diajarkan di masa pagebluk COVID-19. Dia menilai kemendikbud belum perlu mengeluarkan kurikulum darurat. “Berikan kepercayaan kepada guru untuk mengajarkan apa yang paling penting dan bisa dikuasai di masa pandemi COVID-19,” ujarnya kepada SINDOnews , Jumat (31/7/2020). (Baca juga: Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Jokowi: Semoga Ujian Pandemi Ini Segera Berlalu)
Dia mengungkapkan ada tiga masalah dalam penerapan PJJ, yakni sarana, metode, dan kebijakan. Sarana, seperti gawai, laptop, komputer, kuota, sinyal, dan listrik, merupakan masalah utama. Tidak semua siswa-siswi memiliki sarana yang mencukupi untuk mengikuti PJJ.
Guru, menurutnya, masih belum terampil sehingga masih belajar teknologi dan cenderung memindahkan pengajaran tradisional ke kelas maya. Hal tersebut yang membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak efektif.
“Soa-soal dan tugas yang diberikan belum mengacu pada pemikiran tingkat tinggi. Lalu, kebijakan sekolah tentang PJJ tidak disertai kebutuhan siswa sehingga ada siswa dan orang tua yang dirugikan,” terang Doni.
Pengamat Pendidikan Doni Koesoema mengatakan tidak semua materi dapat diajarkan di masa pagebluk COVID-19. Dia menilai kemendikbud belum perlu mengeluarkan kurikulum darurat. “Berikan kepercayaan kepada guru untuk mengajarkan apa yang paling penting dan bisa dikuasai di masa pandemi COVID-19,” ujarnya kepada SINDOnews , Jumat (31/7/2020). (Baca juga: Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Jokowi: Semoga Ujian Pandemi Ini Segera Berlalu)
Dia mengungkapkan ada tiga masalah dalam penerapan PJJ, yakni sarana, metode, dan kebijakan. Sarana, seperti gawai, laptop, komputer, kuota, sinyal, dan listrik, merupakan masalah utama. Tidak semua siswa-siswi memiliki sarana yang mencukupi untuk mengikuti PJJ.
Guru, menurutnya, masih belum terampil sehingga masih belajar teknologi dan cenderung memindahkan pengajaran tradisional ke kelas maya. Hal tersebut yang membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak efektif.
“Soa-soal dan tugas yang diberikan belum mengacu pada pemikiran tingkat tinggi. Lalu, kebijakan sekolah tentang PJJ tidak disertai kebutuhan siswa sehingga ada siswa dan orang tua yang dirugikan,” terang Doni.
Lihat Juga :